Asal-usul Pendidikan dalam perspektif teori sosiologi

Posted: Oktober 7, 2011 in pendidikan

Asal Usul Pendidikan Dalam Perspektif Teori Sosiologi

A.    Pendahuluan

1.      Latar Belakang

Alhamduliallahirobbil’aalamin, segala pujian dan kesempurnaan milik Allah SWT, yang telah mengajarkan ilmu dengan pena-Nya hingga kita dapat mengetahui apa yang tidak kita ketahui, dan atas petunjuk dan ridho-Nya makalah yang berjudul “Asal Usul Pendidikan Dalam Perspektif Teori Sosiologi ” ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini dibuat oleh Laily Nur Arifa (08110044) dan Devi Kurniawati (08110136) dari kelompok V dalam rangka memenuhi tugas matakuliah Sosiologi Pendidikan Islam yang dibimbing oleh Dr. H. Zulfi Mubaraq, M. Ag, serta berkat bimbingan dan kesabaran Beliaulah makalah ini bisa kami selesaikan dengan baik. Pastinya kami berusaha semampu kami delam menyelesaikan makalah ini sesuai dengan arahan yang diberikan bapak Dr. H. Zulfi Mubaraq, M. Ag, sehingga makalah ini bisa dikonsumsi oleh akademisi yang berada pada kelas G Jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang pada tangal 29 bulan Maret tahun 2011.

Pentingnya pembahasan tema ini adalah dalam rangka memberikan informasi tentang asal usul pendidikan dalam perspektif sosiologi. Pertama, bagi penulis, pembahasan ini dapat memberikan tambahan wawasan terhadap bidang sosiologi pendidikan. Kedua bagi fakultas dan universitas, pembahasan ini diharapkan dapat menjadi tambahan pustaka bagi dosen dan mahasiswa fakultas tarbiyah. Ketiga bagi khalayak umum, pembahasan ini diharap dapat memberikan sumbangsih bagi dunia pendidikan.

Secara umum dalam makalah ini terdapat beberapa pembahasan yang berhubungan dengan asal usul pendidikan dalam perspektif teori sosiologi. Diantara pembahasan yang ada di makalah ini adalah hakikat manusia dalam pendidikan, teori-teori pendidikan, dan pendidikan dalam perspektif teori sosiologi.

  1. 2.      Tujuan Pembahasan
    1. Ingin memahami hakikat manusia dalam perspektif pendidikan
    2. Ingin memahami teori-teori tentang pendidikan
    3. Ingin memahami asal-usul pendidikan dalam perspektif sosiologi
    4. Ingin memahami pendidikan dalam perspektif teori sosiologi

 

  1. 3.      Rumusan Masalah
    1. Bagaimana hakikat manusia dalam perspektif pendidikan?
    2. Bagaimana teori-teori tentang pendidikan?
    3. Bagaimana asal-usul pendidikan dalam perspektif sosiologi?
    4. Bagaimana pendidikan dalam perspektif teori sosiologi?
  1. B.     POKOK PEMBAHASAN
  2. 1.      Hakikat Manusia dalam Perspektif Pendidikan

Manusia adalah makhluk yang harus hidup bermasyarakat untuk kelangsungan hidupnya, baik yang menyangkut pengembangan pikiran, perasaan dan tindakannya serta agar dapat mengembangkan sifat-sifat kemanusiaan dalam lingkungan manusia. Interaksi antar manusia tumbuh sebagai suatu keharusan oleh karena kondisi kemanusiaannya seperti; kebutuhan biologis dan psikologis. Kondisi manusia tersebut menuntut adanya kerjasama dengan manusia lain. Kodrat manusia sebagai makhluk bio-psiko-sosial, menyebabkan timbulnya bentuk-bentuk organisasi sosial yang berdiri atas landasan simbiotik-sinergistik, saling memberi manfaat atas dasar tingkah laku fisik, bersifat otomatis dan merupakan komunikasi sosial.[1]

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani yaitu paedagogiek yang asal katanya pais berarti anak, gogos artinya membimbing atau tuntutan, dan iek artinya ilmu. Jadi secara etimologi, paedagogiek adalah ilmu yang membicarakan cara memberi bimbingan kepada anak. Dalam arti khusus, Langeveld mengemukakan bahwa pendidikan adalah bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk mencapai kedewasaan. Dalam arti luas pendidikan merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat.[2]

Pendidikan pada dasarnya adalah suatu sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup dalam segala bidang, sehingga dalam perjalanan sejarah hidup manusia dimuka bumi ini, hampir tidak ada kelompok manusia yang menggunakan pendidikan sebagai alat meningkatkan kualitas sekalipun dalam kelompok primitif.[3]

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara mahkluk yang lain ciftaan allah SWT.salah satu kelebihan yang di miliki oleh manusia ialah manusia diberi akal pikiran dan nafsu yang tidak dimiliki oleh malaikat, jin dan binatang. Dengan akal inilah diharapkan manusia bisa menggelola bumi ini dengan baik, untuk melakukan tugas yang berat tersebut maka manusia membutuhkan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang menyebabkan manusia menjadi objek pendidikan,atau mahluk yang membutuhkan pendidikan sebagai mana yang terdapat dalam Alquran[4]:

zN¯=tæur tPyŠ#uä uä!$oÿôœF{$# $yg¯=ä. §NèO öNåkyÎztä ’n?tã Ïps3Í´¯»n=yJø9$# tA$s)sù ’ÎTqä«Î6/Rr& Ïä!$yJó™r’Î/ ÏäIwàs¯»yd bÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹ ÇÌÊÈ (#qä9$s% y7oY»ysö6ߙ Ÿw zNù=Ïæ !$uZs9 žwÎ) $tB !$oYtFôJ¯=tã ( y7¨RÎ) |MRr& ãLìÎ=yèø9$# ÞOŠÅ3ptø:$# ÇÌËÈ

            Dan ingatlah ketika allah berfirman kepada malaikat “aku hendak menjadi kan kholifah di bumi “mereka berkata apakah engkau hendak menjadikan orang orang perusak dan menumpahkan darah di muka bumi,sedangkan kami selalu bertasbih memuji engkau”dia berfirman  “sungguh aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui . Dan dia mengajarkan nama –nama benda, kemudian dia perlihat kan kepada para malaikat “kata kan lah jika kamu orang  yang benar.(Al-Baqorah ayat 31-32 )[5]

Dari ayat tersebut kita memperoleh  pengertian bahwa manusia adalah  mahluk yang bisa dididik dan diajar. Untuk meningkatkan kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang formal, informal maupun nonformal. Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh instingnya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti.[6]

كلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانهِ

Artinya: “Setiap anak yang dilahirkan ke dunia itu dalam keadaan suci. Hanya kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (HR.Bukhari Muslim).

Dari hadist atas dapat dipahami bahwa manusia di lahirkan ke dunia ini pertama kalinya tidak mengetahui apa-apa. Teori Behaviorisme dalam psikologi beranggapan bahwa manusia bukan baik dan bukan juga jahat semenjak lahir. Dia adalah tabula rasa, putih seperti kertas .maka pendidikanlah yang memegang peranan membentuk pribadinya.[7]

Manusia terdiri dari unsur biologis dan psikologis, maka sudah barang tentu pendidikan harus berpijak pada pertimbangan tersebut sehingga pada akhirnya didapat hasil yang optimal. Dengan potensi yang dimilikinya, Allah menempatkan manusia pada posisi yang mulia, tetapi dengan hal yang sama manusia juga dapat menjadi lebih rendah dari binatang. Dari itu sudah seyogyanya pendidikan haruslah mampu mengarahkan dan mengoptimalkan potensi tersebut kearah yang posotif dan meminimalisasi perkembangan negativitas perilaku sebagai efek dari perkembangan manusia yang salah.[8]

Dari potensi-potensi dasar tersebut juga menunjukkan pada kita akan pentingnya pendidikan untuk mengembangkan dan mengolah sampai di mana titik optimal itu dapat capai. Apalagi kita saksikan kondisi manusia pada waktu dilahirkan di dunia ini, mereka dalam keadaan yang sangat lemah, yang secara tidak langsung membutuhkan pertolongan dari kedua orangtuanya.[9]

Dengan demikian, pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan kepribadian manusia. Potensi jasmaniah dan rohaniah tidak secara otomatis tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, tetapi membutuhkan adanya bimbingan, arahan, dan pendidikan. [10]

Immanuel Kant menyatakan bahwa “Manusia akan menjadi manusia karena pendidikan“. Pendapat serupa dikatakan oleh John Dewey, menurutnya pendidikan adalah salah satu kebutuhan hidup (a necessity of life), salah satu fungsi sosial (a sosial fuction), sebagai pengarah (as direction), dan sebagai alat yang mengantarkan manusia menjadi bertanggungjawab dalam hidupnya. Pernyataan ini telah menempatkan pendidikan pada posisi penting dalam kehidupan manusia, sekaligus memposisikan manusia sebagai obyek pendidikan. Pendidikan dipandang sebagai suatu proses untuk mengantarkan manusia menjadi “manusia“ yang sesungguhnya (khalifah fil- ardh).[11]

 

  1. 2.      Teori-teori  tentang  Pendidikan

Beberapa teori tentang pendidikan antara lain

  1. a.      Empirisme

Empirisme berasal dari kata empiri yang berarti pengalaman, teori ini dipelopori oleh Jhon Lock (1632-1704) dengan teori Tabularasa. Teori ini berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan jiwa yang kosong. Teori ini mengajarkan bahwa perkembangan pribadi ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, terutama pendidikan. Bagi John Lock, faktor pengalaman yang berasal dari lingkungan itulah yang menentukan pribadi seseorang.[12]

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan potensi dasar anak tergantung pada lingkungannya, sedangkan pembawaan tidak dianggap penting. Manusia dilahirkan tanpa potensi dasar apapun sehingga jiwanya diibaratkan seperti meja lilin atau kertas putih yang bersih tanpa noda. Pendidikanlah yang sangat berperan dalam membentuk dan mewarnai jiwa manusia. Apabila manusia dalam pertumbuhan dan perkembangannya menerima pendidikan yang baik, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang bermutu. Sebaliknya, apabila dalam pertumbuhannya ia menerima pendidikan-pendidikan yang buruk, maka ia akan tumbuh menjadi manusia yang buruk.[13]

Paham ini mengandaikan bahwa pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia ditentukan sepenuhnya oleh faktor-faktor pengalaman yang berada diluar diri manusia, baik yang sengaja didesain melalui pendidikan formal maupun pengalaman-pengalaman yang tidak disengaja yang diterima melalui pendidikan formal maupun pengalaman-pengalaman yang tidak disengaja yang diterima melalui pendidikan informal, non formal, dan alam sekitar. Paham ini berpendapat bahwa pendidikanlah yang menentukan masa depan manusia, sedangkan faktor-faktor yang berasal dari dalam, seperti bakat dan keturunan, tidak mempunyai pengaruh sama sekali dalam menentukan masa depan manusia.[14]

Teori ini di kembangkan dari pernyataan John Locke (1704-1932) bahwa seorang anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Implikasinya, lingkungan yang dalam  hal ini bisa berbentuk keluarga, sekolah atau masyarakat akan menentukan pola-pola mengenai cara pandang tertentu yang di transfer  melalui pendidikan. Dengan demikian pendidikan akan berperan menentukan pilihan-pilihan hidup yang dijalaninya. Untuk itu Ngalim Purwanto menyebutnya optimisme pedagogis, yakni pendidikan berpeluang untuk mengembangkan kedirian manusia. Paham Empirisme berkembang luas di dunia Barat terutama di Amerika Serikat. Dalam perkembangannya, paham ini menjelma dalam aliran Behaviorisme, yang dipelopori oleh William James dan Large. Dan banyak pula pengaruh terhadap pandangan tokoh pendidikan barat lainnya seperti Watson, Skiner, Jhon Dewey dan sebagainya. [15]

b.  Nativisme

Nativisme berasal dari kata natives yang artinya pembawaan. Pengertian nativisme dalam kamus paedagogik diartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebakatan. Aliran ini menyatakan bahwa, perkembangan manusia ditentukan oleh sifat-sifat bawaan sejak lahir. Untuk kali pertama, aliran ini dikembangkan oleh Schopenhaeuer, seorang filosof berkebangsaan Jerman. Ia beranggapan yang jahat tidak akan berubah menjadi baik karena pendidikan, paling tinggi hanya berhati-hati. Begitu pula sebaliknya, yang baik tidak akan berubah menjadi buruk karena teladan yang negatif. Jadi, baik dan buruknya manusia menjadi bawaan sejak lahir, taken for granted. Nativisme dipelopori oleh Arthur Schopenheur berkebangsaan Jerman (1768-1880).[16]

Schopenhaur menyatakan bayi lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Dengan demikian, keberhasilan disebabkan oleh adanya kemampuan yang berasal dari dalam diri sendiri yang berupa kecerdasan atau kemauan keras dalam mengembangkan bakat atau kemampuan yang ada dalam dirinya.[17] Implikasinya, faktor eksternal diri manusia yang meliputi lingkungan keluarga, sekolah atau masyarakat tidak akan memiliki peran menentukan dalam membentuk karakter manusia. Dengan demukian, proses transmisi pengetahuan (pendidikan) tidak terjadi antara manusia dengan lingkungannya. Sebab manusia hanya akan sebatas menunggu potensi-potensinya menjadi kenyataan dalam menjalani kehidupan. Ngalim Purwanto      menyebut aliran ini sebagai pesimisme pedagogis, yakni pendidikan tidak berpeluang untuk mengembangkan kedirian manusia. [18]

c.  Naturalisme

Teori ini di kembangkan oleh JJ.Rosseau (1712-1778) yang menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan mempunyai pembawaan baik. Pembawaan baik anak akan menjadi rusak karena di pengaruhi lingkungan. Pandangan ini menekankan bahwa perkembangan potensi anak harus secara alami, artinya tanpa ada rekayasa dan rekadaya dari luar dalam perkembangan potensi anak. Karena itu pendidikan harus  memberikan kebebasan secara alami kepada anak didik dalam menentukan perkembangan dirinya, sehingga anak tetap berada dalam pembawaannya.[19] Pada dasarnya, aliran ini sejalan dengan empirisme  dalam hal bahwa pendidikan memiliki peran penting pada diri manusia. Hanya saja perbedaannya terletak pada anggapan bahwa manusia itu berpotensi baik, dan ketika aktualisasinya buruk maka itu tidak lebih karena disebabkan oleh faktor pengaruh lingkungan (pendidikan). [20]

Oleh karena itu, manusia tidak perlu dididik oleh orang lain, akan tetapi harus dibiarkan dididik oleh kemampuan alamiahnya sendiri melalui proses pendidikan secara alamiah yang bebas dan merdeka sesuai dengan hukum alam. Campur tangan pendidikan dalam diri manusia, menurut paham ini, sebagaimana dikemukakan John Holt (1964) hanyalah sebuah upaya menghancurkan manusia. Manusia dihancurkan oleh suatu proses yang salah, yaitu proses pendidikan yang berlangsung terus menerus dirumah-rumah dan di sekolah-sekolah. Paham ini mengetengahkan tiga prinsip dasar dalam proses belajar mengajar.[21]

d.  Konvergensi

Teori ini di kembangkan oleh William Stern (1871-1739) yang menyatakan bahwa anak dilahirkan di dunia sudah di sertai pembawaan baik maupun buruk, dan dalam proses perkembangannya faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama-sama mempunyai peran yang sangat penting.[22] Dengan kata lain, ketika pendidikan yang baik telah diperoleh seseorang dan efektif, maka ini berarti antara faktor internal dan eksternal saling memperkuat satu sama lain. Dan sebaliknya, ketika pendidikan yang baik telah diperoleh seseorang dan ternyata tidak efektif maka nampaknya pembawaan buruk lebih dominan. Namun demikian bukan pendidikan yang menjadi datu-satunya penyebab rusaknya potensi baik seperti yang dinyatakan aliran naturalisme.[23]

Menurut faham konvergensi tersebut, faktor pembawaan sejak lahir saja tidak dapat berkembang seoptimal mungkin tanpa dipengaruhi oleh faktor lingkungan sekitar yang sepadan. Sebaliknya, faktor lingkungan yang baik tidak akan dapat menghasilkan perkembangan anak yang maksimal, jika faktor dasar yang sesuai tidak terdapat dalam diri anak Jadi, teori konvergensi menyatakan bahwa perkembangan anak merupakan hasil proses kerjasama antara faktor bakat atau bawaan dan faktor lingkungan (termasuk pendidikan).[24]

3.Asal-Usul Pendidikan dalam Perspektif Sosiologi

Dilihat dari kerangka keilmuan, sosiologi memiliki sudut pandang, dan metode serta susunan yang tertentu. Secara tegas dapat dinyatakan bahwa obyek telaah sosiologi adalah manusia dalam kelompok, dengan memandang hakekat masyarakat, kebudayaan dan individu secara ilmiah.[25] Sosiologi pendidikan secara khusus dapat diartikan sebagai sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental yang memusatkan perhatian pada penyelidikan daerah yang saling dilingkupi antara sosiologi dengan ilmu pendidikan.[26]

Salah satu tokoh penting dalam khazanah perkembangan sosiologi pendidikan adalah Durkheim (1858-1917), terutama pandangannya terhadap pendidikan sebagai suatu sosial thing (ikhtisar sosial). Atas dasar pandangan ini, beliau mengatakan bahwa pendidikan itu bukanlah hanya satu bentuk, baik dalam artian ideal maupun aktualnya, tetapi bermacam-macam. Pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan kesadaran diri dan kesadaran sosial menjadi suatu panduan yang stabil, disiplin, utuh dan bermakna. Sehingga dalam konteks antisipasi terhadap arus deras tranformasi, yang berkembang dalam perkembangan masyarakat modern, beliau menegaskan bahwa pendidikan harus melakukan perubahan dan penyesuaian. Untuk itu, para pelaku pendidikan harus memandang penting pendekatan sosiologis.[27]

Beberapa ahli sosiologi terdahulu berpendapat bahwa pendidikan sebagai proses perbaikan yang memiliki fungsi utama dalam memperbaiki masyarakat. Lester F. Ward mengatakan bahwa pendidikan adalah alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Sekolah harus berhasil dalam mengajar siswanya, sehingga melalui pengetahuan yang diperolehnya dapat meningkatkan budaya ke arah yang lebih tinggi dan memungkinkan.[28]

John Dewey mengungkapkan bahwa pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam masyarakat, maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung cita-cita utama dan istimewa. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial.[29]

Pendidikan, menurut Dewey, adalah hidup itu sendiri. Disini pertumbuhannya terus bertambah. Setiap pencapaian perkembangan menjadi batu loncatan bagi perkembangan selanjutnya. Oleh karena itu, proses pendidikan merupakan salah satu bentuk penyesuain diri yang terus menerus berlangsung. Dalam proses tersebut berlangsung proses psikologis (perubahan tingkah laku yang tertuju pada tingkah laku yang canggih, terencana dan bertujuan) dalam proses sosiologis (perubahan adat istiadat ,sikap kebiasaan dan lembaga) yang tidak terpisahkan. Pandangan John Dewey bahwa pendidikan harus tertuju pada efesiensi sosial,atau kemanfaatan pada kehidupan sosial; dan belajar berbuat atau belajar melalui pengalaman langsung yang lebih dikenal dengan sebutan learning by doing.[30]

Ibnu Khaldun memandang ilmu dan pendidikan sebagai satu aktifitas yang semata–mata bersifat pemikiran dan perenungan serta jauh dari aspek pragmatis dalam kehidupan. Ia memandang ilmu dan pendidikan sebagai suatu gejala konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya didalam tahapan kebudayaan, akal mendorong manusia untuk memiliki pengetahuan yang penting baginya di dalam kehidupannya yang sederhana pada periode pertama pembentukan masyarakat, lalu lahirlah ilmu pengetahuan sejalan dengan perkembangan masa kemudian lahir pula pendidikan sebagai akibat adanya kesenangan manusia dalam memahami dan mendalami pegetahuan.[31]

Jadi ilmu dan pengetahuan adalah dua anak yang lahir dari kehidupan yang berkebudayaan dan berguna untuk kelestarian alam. Oleh karena itu pendidikan menurutnya disandarkan pada pengalaman dan pengamatan sehingga hasil dari pendidikan adalah kemandirian dan keberanian dalam menghadapi kenyataan. Pandangannnya mengenai pendidikan dan pengajaran didasarkan filsafatnya yang realistis pragmatis yang disarikan dari filsafat sosialnya ia menjadikan pengajaran sebagai profesi untuk mencari rizki. [32]

 

4. Pendidikan dalam Perspektif Teori Sosiologi

a. Pengertian Teori

Pengertian Teori dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah 1 pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa (kejadian dsb); 2 asas dan hukum umum yang menjadi dasar suatu kesenian/ilmu pengetahuan.[33] Jika kita melihat dalam kamus ilmiah maka teori diartiakan perangkat dari proposisi- proposisi yang mempunyai korelasi yang telah terbukti dan teruji kebenarannya, asa dan hukum yang menjadi dasar kesenian dan ilmu pengetahuan.[34] Sedangkan dalam kamus popular teori berarti dalil ilmu pasti, ajaran atau faham pandangan tentang sesuatu berdasarkan kekuatan atau akal (rasio), patokan dasar sains dan ilmu pengetahuan. pedoman praktik.[35]

 

b. Teori-teori Sosiologi tentang Pendidikan

1) Teori Interaksi

Teori ini memandang bahwa sosiologi mempunyai perhatian pada individu dengan individu lainnya. Setiap individu memberikan sumbangan budaya dalam usaha menjabarkan dan menetapkan lembaga-lembaga sosial dalam cara-cara yang sama akibat dari kesamaan sosialisasi pengalaman dan harapan.[36] Lebih jauh, bahwa teori ini menekankan pada pemahaman pandangan pikiran sehat terhadap realitias, bagaimana kita memandang peristiwa dan situasi di sekitar kita dan mereaksinya sebagaimana kita perbuat. Aplikasinya pada pendidikan diwujudkan dalam bentuk kajian proses interaksi di dalam kelas, pengelolaan dan penggunaan pengetahuan, pertanyaan tentang apakah hal itu di ajarkan, materi kurikulum, dan hal lainnya.[37]

Selanjutnya Payne menjelaskan bahwa: ‘’The sosial interdepences include not nurely those in which the individual gains and organizes his experiences as a child, but also those sosial groups and processes in which the must function in adult life. These sosial relationships are for theremore regarded particulary inrelation to the educational system in its evolution and changing finction’’ Jadi bukan saja pada anak-anak tetapi juga pada orang-orang dewasa, kelompok-kelompok sosial, bahkan pada proses sosial pun, bahwa interaksi sosial itu yang membentuk tingkah laku manusia, secara tertentu dianggap sebagai sistem pendidikan yang berkembang terus. Artinya setiap kali didapati kondisi dan situasi baru, haruslah ada interaksi sosial yang baru dan seolah-olah individu-individu itu belajar berinteraksi sosial. Inilah yang merupakan prinsip pedagogisnya.[38]

Sebagai makluk sosial, manusia dalam kehidupannya membutuhkan hubungan dengan manusia yang lain. Hubungan tersebut terjadi karena manusia mengajarkan manusia yang lain, ketika sesuatu yang akan dilakukan tidak dapat dilakukan seorang diri. Kecenderungan manusia untuk berhubungan melahirkan komunikasi dua arah melalui bahasa yang mengandung tindakan dan perbuatan. Karena ada aksi dan reaksi, maka interaksi pun terjadi. Karena itu, interaksi akan berlangsung bila ada hubungan timbal balik antara dua orang atau lebih.[39]

Interaksi antara manusia satu dengan lainnya selalu mempunyai motif tertentu guna memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan mereka masing-masing. Interaksi yang berlangsung di sekitar kehidupan manusia dapat bernilai edukatif apabila interaksi yang dilakukan dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai interaksi edukatif. Dengan konsep di atas, memunculkan istilah guru di satu pihak dan anak didik di lain pihak. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama mencapai tujuan. [40]

Oemar Hamalik mendefinisikan pengajaran adalah sebagai interaksi belajar mengajar yang berlangsung sebagai suatu proses saling mempengaruhu antara guru dengan siswa. keduanya terdapat hubungan atau komunikasi interaksi guru mengajar disatu pihak yang lain dan siswa belajar dilain pihak. Dimana keduanya menunjukan aktifitas yang seimbang, hanya berbeda peranannya[41]

Interaksi edukatif harus menggambarkan hubungan aktif dua arah dengan sejumlah pengetahuan sebagai mediumnya, sehingga interaksi itu merupakan hubungan yang bermakna dan kreatif. Semua unsur interaksi edukatif harus berproses dalam ikatan tujuan pendidikan. Karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. [42]     Bentuk umum proses-proses sosial adalah interaksi sosial (yang juga dapat di namakan proses sosial), oleh karena interkasi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Bentuk lain dari proses-proses sosial hanya merupakan bentuk-bentuk khusus dari interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila ada dua orang bertemu, interaksi sosial di mulai. Pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling bebicara atau mungkin saling berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial.[43]

Contoh :

Metode Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. [44]

Ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu (1) Proses yang asosiatif yang terbagi ke dalam tiga bentuk khusus lagi yakni; (a) akomodasi dan (b) asimilasi dan akulturasi, serta (2) proses yang disasosiatif yang mencangkup (a) persaingan (b) pertentangan atau pertikaian. Proses-proses interaksi yang pokok adalah; (a) kerjasama, (b) akomodasi, dan (c) asimilasi[45]

Secara khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak.berlawanan dengan pembelajaran lewat penemuan individu (individual discovery learning), kerja kelompok secara koperatif (cooperative groupwork) tampaknya mempercepat perkembangan anak.[46]

2) Sosialisasi sebagai Proses Belajar

Seorang bayi lahir ke dunia sebagai suatu organisme kecil yang egois yang penuh dengan segala macam kebutuhan fisik. Kemudian ia menjadi seorang manusia dengan seperangkat sikap nilai dan tujuan, Kesukaan dan ketidaksukaan, pola reaksi, konsep yang mendalam, serta konsisten terhadap dirinya. Setiap orang memperoleh semua itu melalui proses yang kita sebut sosialisasi, yakni proses belajar yang mengubahnya dari seekor binatang menjadi seorang pribadi dengan kepribadian yang manusiawi. Lebih tepatnya, sosialisasi adalah suatu proses dimana seorang menginternalisasi norma-norma kelompok dimana dia hidup sehingga timbullah diri yang unik.[47]

Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society” yakni proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.[48] Mead menyatakan bahwa manusia yang baru lahir belum mempunyai diri. Diri manusia berkembang secara bertahap melalui interaksi dengan anggota masyarakat lain.[49]

Dewey memandang pendidikan dari segi proses, dimana pendidikan diartikan sebagai tuntutan terhadap proses pertumbuhan dan proses sosialisasi dari anak. Disamping proses pertumbuhan dari anak mengembangkan diri ke tingkat yang makin lama makin sempurna. sedangkan proses sosialisasi adalah proses untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat yang penuh dengan problem-problem dan yang senantiasa berubah atau berkembang secara dinamis.[50]

Contoh :

Cooley mengungkapkan sebuah kasus yang mengisahkan Anna yang semenjak bayi dikurung ibunya dalam gudang selama lima tahun dan juga seorang anak perempuan yang tidak terungkap namanya yang disekap ayahnya di gudang semenjak usia satu setengah tahun hingga tiga belas tahun. Anak-anak yang tersebut berperilaku seperti manusia. Mereka tidak dapat berpakaian, buang air besar-kecil secara tertib atau berbicara. Anna juga tidak dapat makan dan mengunyah makanannya sendiri, juga tidak dapat tertawa atau menangis. Setelah bersosialisasi dengan masyarakat, lambat laun mereka dapat mempelajari kemampuan yang dimiliki sebayanya. Namun, mereka tidak pernah terlihat wajar dan meninggal pada usia muda.[51]

 

3) Teori Social – Culture

Vygotsky dalam teorinya mengatakan bahwa kondisi sosial dan budaya mempengaruhi kognisi anak. Kognisi yang dimiliki oleh manusia menjadi pembawaan dalam dasar bersosialisasi dan berbahasa. Menurut Vygotsky bayi telah dipersiapkan dengan persepsi dasar, kemampuan untuk memperhatikan, dan kapasitas memori seperti yang ada pada binatang. Hal-hal tersebut berkembang pada 2 tahun pertama melalui kontak langsung dengan lingkungan. Perkembangan bahasa yang cepat mengarah pada perubahan dalam berpikir. Pemikiran Vygotsky yang telah diulas diatas lebih dikenal dengan Teori Sosiokultural.[52]

Bagi Vygotsky pembelajaran melibatkan perolehan tanda-tanda melalui pengajaran dan informasi dari orang-orang lain. Perkembangan melibatkan internalisasi anak terhadap tanda-tanda ini sehingga sanggup berfikir dan memecahkan masalah tanpa bantuan orang-orang lain. Kemampuan ini disebut pengaturan diri (self-regulation). [53]

 

4)  Bahasa sebagai Tahapan Penting Proses Pendidikan

Durkheim berpendirian bahwa pemikiran bergantung pada bahasa dan bahasa bergantung pada masyarakat. Jadi masyarakat menghasilkan instrumentalitas dasar bagi pemikiran.  Sebagai tambahan pula, dia berpendapat bahwa kategori-kategori fundamental bagi kognisi hanyalah kategori-kategori sosial sendiri yang telah di transformasikan dan telah disaring. Demikian pula halnya Dewey menganggap  individu sebagai proses perkembangan. Ia tertarik dengan proses sosial yang disajikan oleh revolusi industry. Diperlukan adanya kurikulum baru yang cocok dengan praktik seni dan disiplin dalam kehidupan industri. Jika manusia ingin hidup dalam masyarakat maka ia harus belajar sebagai seorang warga negara yang tumbuh di dalam sebuah interaksi dan hubungan yang kompleks. Melalui pendidikan individu, mereka diajarkan untuk membayangkan apa yang mengikuti dirinya dalam sebuah proses yang menghasilkan batasan-batasan perkembangan. Pendidikan adalah instrument penyesuaian sosial dan instrument politik serta rekonstruksi moral, sama seperti pemikiran yang merupakan instrument penyesuaian diri di dunia.[54]

Dewey mengartikan pendidikan adalah suatu tranmisi yang dilakukan melalui komunikasi. Komunikasi adalah proses dari penyatuan empiris dan proses modifikasi watak, hingga menjadi suatu keadaan pribadi. Hal ini dapat dikatakan bahwa setiap rancangan sosial memiliki bagian penting dari sebuah kelompok, dari yang tertua hingga yang termuda. Sebagai sebuah masyarakat yang sangat kompleks dalam struktur maupun sumber daya, membutuhkan pendidikan formal serta proses pembelajaran.[55]

Contoh:

Percakapan pribadi adalah suatu mekanisme yang ditekankan vigotsky untuk mengubah pengetahuan bersama menjadi pengetahuan pribadi. Vigotsky berpendapat bahwa anak-anak menyerapkan percakapan orang-orang lain dan kemudian menggunakan percakapan itu untuk membantu diri sendiri memecahkan masalah. Percakapan pribadi mudah dilihat dalam anak-anak kecil, yang sering berbicara dengan diri sendiri,khususnya ketika dihadapkan dengan tugas-tugas sulit. Kemudian, percakapan pribadi akhirnya tidak terdengar masih sangat berperan penting. Studi telah menemukan bahwa anak-anak yang melakukan banyak percakapan pribadi mempelajari tugas-tugas yang rumit dengan lebih efektif daripada anak-anak yang lain.[56]

C. Analisa dan Diskusi

1. Analisis Hakikat Manusia dalam Perspektif Pendidikan

Pada hakikatnya manusia adalah makhluk sosial yang harus hidup bermasyarakat dan berinteraksi. Kewajiban untuk bersosialisasi inilah yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain. Makhluk lain tidak pernah berpikir untuk membuat hidupnya lebih baik dari sebelumnya. Kainginan untuk berkembangng menuju arah yang lebih baik inilah yang kemudian menyebabkan manusia memerlukan pendidikan.

Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Manusia juga sudah ditakdirkan oleh Allah menjadi khalifah di muka bumi.

Manusia juga sudah ditakdirkan mendapat pendidikan. Hal ini dapat diinterpretasikan dari surat Al-Baqarah ketika Allah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam sehingga membuat malaikat terdiam dari keraguannya. Di dalam hadis nabi juga telah disebutkan bahwa manusia pada dasarnya terlahir suci dan memiliki fitrah, lingkunganlah yang kemudian memberikan perubahan pada perilaku manusia tersebut. Ilmuwan barat juga merumuskan teori behaviorisme yang beranggapan bahwa manusia terlahir putih dan kosong seperti kertas, pendidikanlah yang kemudian memegang peranan membentuk pribadinya.

Dalam pendidikan terdapat banyak teori tentang hakikat manusia. Teori Empririsme menyebutkan bahwa manusia tergantung pada lingkungan. Namun, teori Nativisme menyebutkan sebaliknya, bahwa pendidikan sama sekali tidak berpengaruh terhadap manusia. Manusia memiliki bawaan sejak lahir berupa bawaan baik dan bawaan buruk.  Konvergensi adalah teori yang mengkompromikan keduanya. Bahwa manusia memiliki bawaan sejak lahir, namun pendidikan juga berperan penting terhadap perkembangan manusia. Teori Naturalisme hampir sama dengan konvergensi, namun teori ini menyatakan bahwa manusia hanya memiliki bawaan baik sejak lahir dan tidak memiliki bawaan buruk.

  1. 2.      Analisis Teori-teori Pendidikan

Ada empat teori utama pendidikan, yakni empirisme, nativisme, naturalism dan konvergensi. Teori empirisme ialah teori yang menyatakan bahwa manusia seperti kertas kosong, putih bersih dan tidak membawa bakat dari lahir. Pendidikan (lingkungan) lah yang mempengaruhinya.

Teori Nativisme berpendapat sebaliknya, bahwa manusia memiliki bawaan lahir dan pendidikan tidak memberikan pengaruh apapun terhadap manusia. Teori naturalism berpendapat bahwa manusia memiliki potensi baik dalam dirinya dan pendidikan membantu mengembangkan potensi baik tersebut. Teori konvergensi hamper sama dengan teori naturalism, hanya saja konvergensi berpendapat bahwa manusia memiliki potensi baik dan buruk.

3. Analisis Asal-usul Pendidikan dalam Perspektif Sosiologi

Seperti yang telah dikemukakan tadi bahwa pendidikan adalah bimbingan oleh orang dewasa kepada anak yang belum dewasa. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah proses interaksi antara orang dewasa dengan orang yang lebih muda. Ilmu yang lebih khusus mempelajari proses interaksi adalah sosiologi.

Menurut Emile Durkheim, pendidikan adalah alat untuk mengembangkan kesadaran diri dan kesadaran sosial. Lester F. Ward mengatakan bahwa pendidikan adalah alat untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. John Dewey mengungkapkan bahwa pendidikan adalh proses masyarakat. Menurut Dewey, pendidikan adalah hidup itu sendiri. Oleh karena itu, proses pendidikan merupakan salah satu bentuk penyesuaian diri yang terus menerus berlangsung. Pendidikan harus tertuju pada efisiensi sosial atau kemanfaatan pada kehidupan sosial. Belajar atau berbuat diperoleh melalui pengalaman langsung yang disebut learning by doing. Sedangkan Ibnu Khaldun memandang pendidikan sebagai suatu aktifitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan perenungan jarak jauh yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan kebudayaan.

4. Analisis Teori Sosiologi tentang Pendidikan

Teori interaksi, yang banyak dibahas oleh tokoh-tokoh sosiologi mengungkapkan  bahwa tiap individu mempunyai perhatian pada individu lainnya. Lebih jauh, teori ini memandang aperistiwa di sekitar manusia dan reaksi manusia itu sendiri terhadap peristiwa tersebut. Aplikasinya ialah interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid lainnya di dalam kelas.

Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga berpengaruh penting pada perkembangan kognitif anak. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Vygotsky mencetuskan konsep ZPD (Zone Proximal Development) dan Scafholding. Ini berarti bahwa interaksi amat penting dalam proses pendidikan karena pada hakikatnya, pendidikan adalah interaksi itu sendiri.

Sosialisasi juga merupakan tahapan penting dalam pendidikan. Seorang manusia yang tidak bersosialisasi, tidak akan mencapai perkembangan yang sama dengan manusia sosialis. Berger mendefinisikan sosialisasi dengan proses seorang anak untuk menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.

Kondisi sosial budaya juga merupakan faktor penting dalam pendidikan. Karena semakin beradab kondisi sosial di suatu daerah akan semakin memudahkan proses pendidikan. Durkeim, mengemukakan bahwa bahasa adalah proses pendidikan yang paling penting. Bahasa adalah hasil cipta manusia. Bahasa juga merupakan kunci sumber informasi. Dewey mengartikan pendidikan adalah suatu tranmisi yang dilakukan melalui komunikasi. Komunikasi adalah proses dari penyatuan empiris dan proses modifikasi watak, hingga menjadi suatu keadaan pribadi.

5. Diskusi (Dilaksanakan pada Kamis, 31 Maret 2011)

a.    M. Abdun Nafi’ Kurniawan

Pertanyaan: Dari sekian teori-teori pendidikan dalam perspektif sosiologi, menurut pemakalah, teori apa yang sesuai dengan sistem pendidikan dalam budaya indonesia?

Jawaban: Teori-teori seperti teori interaksi dan sebagainya memiliki konteks yang berbeda, tergantung situasi dan kondisi yang ada. Oleh karena Indonesia juga memiliki konteks budaya dan social yang beragam, teori yang digunakan juga menyesuaikan kondisi yang ada.

  1. Mushlihatul Ula

Pertanyaan: Bagaimana  pernyataan yang tepat untuk pendidikan di Indonesia saat ini “pendidikan untuk hidup atau hidup untuk pendidikan” ?

Jawaban: pendidikan untuk hidup bagi orang kapitalis dan mayoritas orang yang memaknai pendidikan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan. Dan hidup untuk pendidikan bagi orang yang idealis, yang menganggap pendidikan adalah hal paling urgen dan jalan untuk kehidupan akhirat.

  1. Mariyatul Qibtiyah

Pertanyaan: Berikan contoh salah satu teori sosiologi yang di UIN Maliki  Malang! Bagaimana hubungan teori sosiologi dengan teori pendidikan?

Jawaban: di kelas kita selalu berinteraksi, baik dalam berdiskusi atau interaksi antara dosen dan mahasiswa. Hubungan antara teori sosiologi dan teori pendidikan adalah bahwa pendidikan pada dasarnya merupakan proses interaksi. Pendidikan sendiri memiliki cakupan yang luas, salah satunya sosiologi.

  1. Nurul Hidayat

Pertanyaan: Menurut pemakalah, apakah sama belajar dengan pengalaman atau terdidik dengan pengalaman?

Jawaban: Perbedaan istilah di atas bersifat subyektif. Individu yang mengganggap bahwa istilah pembelajaran dan pendidikan adalah hal yang sama, maka ungkapan belajar dengan pengalaman atau terdidik dengan pengalaman merupakan hal yang sama. Tapi secara pribadi, pemakalah menganggap hal tersebut berbeda karena pendidikan memiliki cakupan yang lebih luas dari pembelajaran.

Tambahan:

Abdun Nafi’: perlu di bedakan antara pendidikan dengan belajar

Mariyatul qibtiyah: tidak setuju dengan adanya persamaan antara pendidikan dengan belajar

Adi Purwanto: perbedaan pendidikan dengan belajar. Pendidikan = formal, belajar= non formal

  1. Yanti Kamiarsih

Pertanyaan: Apa Teori pendidikan yang sesuai  dengan pendidikan Islam?

Jawaban: Islam menganggap manusia sejak lahir memiliki bawaan (potensi) tapi juga harus mendapatkan pendidikan. Hal ini sama dengan yang dikemukakan oleh teori konvergensi.

D.  Kesimpulan

1. Pada hakikatnya, manusia adalah makhluk sosial dikarenakan kebutuhannya untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh sebab itu pula, secara otomatis manusia memerlukan pendidikan. Pendidikan diperlukan untuk mengembangkan pribadi manusia menjadi individu yang lebih baik.

2. Perkembangan manusia itu sendiri memiliki banyak teori. Beberapa diantaranya adalah nativisme, empirisme, naturalisme dan konvergensi. Teori-teori tersebut membicarakan tentang hakikat manusia dalam perspektif manusia. Tentang apakah lingkungan memberikan pengaruh terhadap pendidikan manusia.

3. Dapat ditarik kesimpulan bahwa asal usul pendidikan berasal dari kebutuhan manusia terhadap kebudayaan dan kemuajuan peradaban. Kesimpulan ini dapat dikerucutkan menjadi kalimat di atas setelah mengamati definisi para tokoh tentang asal usul pendidikan.

4. Dalam perspektif sosiologi, pendidikan adalah proses sosial. Dengan demikian maka lingkungan amat berpengaruh dalam pendidikan. Beberapa teori sosiologi yang erat kaitannya dengan pendidikan adalah teori interaksi, teori sosialisasi, teori  sosial budaya dll.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Rujukan

 

Arifin, M. 1995. Kapita selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta: Bumi Aksara.

Al-Barry, M. Dahlan.  Dkk. 2003. Kamus Induk Ilmiah. Surabaya: Taeget Press.

_________________. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya: Arkola

Departemen Agama. 2005. Alquran dan Terjemahannya. Bandung: Diponegoro.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Dewey, John. 1972, Experience And Education, Colliers Books: New York, Alih Bahasa John De Santo Jakarta: Erlangga. 2007

Horton, Paul B. dan Hunt, Chester L. 2006. Sosiologi Jilid I Edisi VI, Penerjemah, Aminudin Ram dan Tirta Sobari. Jakarta: Erlangga

Hidayanto, 2007. Dwi Nugroho. Pemikiran Kependidikan; dari Filsafat ke Ruang Kelas, Jakarta: Transwacana Jakarta.

Hufad, Ahmad. 2007. Teori Sosiologi Pendidikan dalam buku Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Bag I  (Ilmu Pendidikan Teoritis). Bandung: Imperial Bhakti Utama.

Ibnu Khaldun, Abdurrahman. 2001. Muqaddimah Ibnu Khaldun. Terj. Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Ihsanudin, M.   2009. Pragmatisme Pendidikan, Telaah Atas Pemikiran John Dewey. http://indekos.tripod.com/id4.html// diakses tanggal 23 Maret 2011

Khan, Achmad Warid. 2002. Membebaskan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Istiwa.

Khaliq, Abdul dkk. 1999. Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Latif, Abdul. 2009. Pendidikan Bebasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: PT.Refika Aditama.

Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT Bumi Aksara

Purwanto, Ngalim. 2003. Ilmu Pendidikan dan Praktis. Bandung: Rosdakarya.

Slavin, Robert. 2008. Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek edisi VII jilid I, Jakarta: PT Indeks

Soekamto, Soerjono. 1988. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali.

Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Suyitno, Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia (Dari Dunia Timur, Timur Tengah Dan Barat), (Bandung: UPI. 2009), hal 8.

Thoib, Ismail. 2008. Wacana Baru Pendidikan. Yogyakarta: Genta Press.

Tirtaraharja, Umar dan Sula, La. 2000. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Usman, Abu Bakar dan Surohim. 2005. Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam. Yogyakarta: Safina Insania Press.

Woolfolk, Anita. 2009. Educational Psicology. United State of America: Pearson Education. http://comunity.um.ac.id diakses pada selasa 23 Maret 2011 pukul 20.30, hal 55.

Zayadi, Ahmad. 2006. Manusia dan Pendidikan dalam Perspektif Alquran. Bandung : PSPM.


[1] Dwi Nugroho Hidayanto, Pemikiran Kependidikan; dari Filsafat ke Ruang Kelas, (Jakarta: Transwacana Jakarta, 2007), hal  4.

[2] M. Arifin, Kapita selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hal. 71

[3] Ibid, hal. 72

[4] Ahmad Zayadi, Manusia dan Pendidikan dalam Perspektif Alquran, (Bandung : PSPM, 2006), hal 112.

[5] Departemen Agama, Alquran dan Terjemahannya, (Bandung: Diponegoro, 2005), hal 7.

[6] Ahmad Zayadi, op.cit, hal 113

[7] Ibid

[8] Ibid, hal 114

[9] Ibid

[10] Ibid

[11] Achmad Warid Khan, Membebaskan Pendidikan Islam (Yogyakarta: Istiwa, 2002), hal 62-63.

[12] Ismail Thoib, Wacana Baru Pendidikan, (Yogyakarta: Genta Press, 2008), hal. 20

[13] Umar Tirtaraharja dan La Sula, Pengantar Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 194.

[14] Ismail Thoib, op.cit.

[15] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan dan Praktis, (Bandung: Rosdakarya, 2003), hal. 59.

[16] Ismail Thoib, op.cit. hal 22

[17] Umar Tirtaraharja dan La Sula, op.cit, hal. 196

[18] Ngalim Purwanto, op.cit, hal. 60

[19] Usman Abu Bakar dan Surohim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Safina Insania Press, 2005), hal. 32

[20] Abdul Latif, Pendidikan Bebasis Nilai Kemasyarakatan (Bandung: PT.Refika Aditama, 2009), hal. 39

[21] Ismail Thoib, op.cit. hal 24

[22] Umar Tirtarahardja dan La Sula, op.cit, hal. 198.

[23] Abdul Latif, op.cit, hal. 39

[24] Ismail Thoib, op.cit. hal 26

[25] Ahmad Hufad, Teori Sosiologi Pendidikan dalam buku Ilmu dan Aplikasi Pendidikan: Bag I  (Ilmu Pendidikan Teoritis), (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007), hal 221

[26] Ibid, hal 223

[27] Ahmad Hufad,  op.cit, hal 224

[28] Ibid, hal 230

[29] M. Ihsanudin,  2009, Pragmatisme Pendidikan, Telaah Atas Pemikiran John Dewey, http://indekos.tripod.com/id4.html// diakses tanggal 23 Maret 2011 pukul 20.30

[30] Suyitno, Tokoh-Tokoh Pendidikan Dunia(Dari Dunia Timur, Timur Tengah Dan Barat), (Bandung: UPI. 2009), hal 8.

[31] Abdurrahman Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, Terj. Ahmadie Thoha, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001, Cet. VI), Hlm 535.

[32] Abdul Khaliq, dkk. Pemikiran Pendidikan Islam : Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 1999), Hal. 22.

[33] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka), hal 935.

[34] M. Dahlan. Al-Barry, dkk, Kamus Induk Ilmiah, (Surabaya: Taeget Press, 2003), hal. 767.

[35] M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola,1994), hal. 746.

[36] Ahmad Hufad,  op.cit, hal 246

[37] Ibid, hal 247

[38] Ibid

[39] Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal 47

[40] Ibid

[41] Ibid, hal 54-55

[42] Ibid, hal 55

[43] Soerjono Soekamto, Sosiologi: Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali, 1988), hal 51

[44] Ibid. hal 59

[45] Ibid, hal 61

[46] Robert Slavin,  Psikologi Pendidikan Teori dan Praktek edisi VII jilid I, (Jakarta:PT Indeks 2008), hal 87.

[47] Paul B. Horton, Chester L. Hunt, Sosiologi Jilid I Edisi VI, Penerjemah, Aminudin Ram dan Tirta Sobari. (Jakarta: Erlangga, 2006), Hal, 99.

[48] Kamanto Sunarto, op.cit, hal 21.

[49] Ibid, hal 22.

[50] John Dewey, 1972, Experience And Education, Colliers Books: New York, Alih Bahasa John De Santo, (Jakarta: Erlangga, 2007), hal 12-13

[51] Ibid, hal 23.

[52] Anita Woolfolk. 2009. Educational Psicology. United State of America: Pearson Education. http://comunity.um.ac.id diakses pada selasa 23 Maret 2011 pukul 20.30, hal 55.

[53]Ibid,  Hal. 57.

[54] Ibid, hal 112

[55] Dewey, op.cit, 47-48

[56] Robert Slavin, op.cit, hal 60

Berikan comment anda untuk apresiasi dan perbaikan tulisan ini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s