RESUME BUKU ILMU PERBANDINGAN AGAMA MUKTI ALI

Posted: Desember 28, 2011 in perbandingan agama
Tag:, , , ,

Nama Mahasiswa      : Laily Nur Arifa

NIM                            : 08110044

Fakultas/ jurusan       : Tarbiyah/ PAI

Mata Kuliah               : Studi Agama-agama

Kelas                           : C

Ruang                         : A 102

Dosen Pembimbing    : Drs. Bashori

 

 


RESUME BUKU ILMU PERBANDINGAN AGAMA

Karya Dr. H. Mukti Ali

 

I. Ilmu Perbandingan Agama dan Metodenya

Ilmu Perbandingan Agama adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala keagamaan dari suatu kepercayaan (agama) dalam hubungannya dengan agama lain. Pemahaman ini mencakup persamaan (kesejajaran) dan perbedaannya. Selanjutnya dengan pembahasan tersebut, struktur yang asasi dari pengalaman keagamaan manusia dan pentingnya bagi hidup dan kehidupan manusia dapat dipelajari dan dinilai[1] Obyek Ilmu Perbandingan Agama adalah  pertanyaan-pertanyaan yang bersifat fundmental dan universal dari tiap-tiap agama. Beberapa pertanyaan tersebut akan akan dijawab sesuai dengan ajaran agama masing-masing.[2]

 

II. Sejarah Pertumbuhan Ilmu Perbandingan Agama

  1. A.    di Dunia Barat

Di dunia Barat beberapa abad sebelum Yesus lahir, Herodotus (481 SM), beroros (250 SM), Cicero (106-38 SM), Sallustius (86-34 SM) telah memberikan sketsa tentang sejarah berbagai agama dan menggambarkan adapt kebiasaan bangsa-bangsa lain yang diketahuinya pada waktu itu. Strabo (63 SM – 21 M) telah menulis dengan kritis agama-agama di dunia Timur. Ia diikuti oleh Varro (116-27 SM) dan Tacitus (55-117 M).

Selanjutnya beberapa penulis Kristen apologis pada abad-abad pertama seperti Aristides telah memberikan interpretasi tentang hubungan antara agama kafir, Yahudi dan Kristen. Berikutnya Clement dari Alexandria (202 M) menulis tentang agama Buddha. Saxo (1220 M) dan Snorri (1241) menulis tentang agama-agama di Eropa Utara. Marco Polo (1254-1324 M) yang telah menjelajahi Asia Tengah pada tahun 1271 dan Negeri Tiongkok pada tahun 1275 telah menulis tentang agama-agama Timur di Eropa pada masa itu.

Pada masa Reformasi dan Renaissanse, Erasmus  (1469-1536 M) menulis tentang elemen-elemen agama kafir yang terdapat dalam peribadatan agama Roma Katolik dan ajaran-ajarannya. Kemudian diikuti oleh Toland dalam bukunyaChristianity not Mysterius (1696). Sejalan dengan  semangat Rasionalisme, maka mulailah teori evolusi tentang asal-usul agama, dengan menolak danya revelation (wahyu). Hal ini tampak dalam bukunya David Hume dengan judul Natural History of Religion (1757) dan dalam bukunya Voltair berjudul Essay (1780). Selanjutnya diikuti dengan penelitian agama yang historis dari Duperon tentang agama Persia; William Jones tentang agama Sanskrit; Champollion tentang agama Mesir Lama; Rask tentang agama Persia dan India; Niebuhr, Botta, Layard dan lainnya menulis tentang agama Babilonia.

Kemudian Ernest Renan (1822-1892) menjadi orang pertama yang menciptakan istilah “Comparative Study of Religion.” Setelah itu ilmu baru ini mendapat sambutan yang hangat di berbagai Universitas di Barat. Sebelum penutup abad ke-19 sudah terdapat ahli-ahlinya di Belanda, Switzerland, Perancis, Italia, Denmark, Belgia dan Amerika. Setelah itu diterbitkanlah beberapa buku, majalah, dan diadakan beberapa konggres internasional[3]

 

  1. B.     di Dunia Islam

Cukup menarik bahwa di dunia Islam karangan atau tulisan tentang perbandingan agama terdapat di dalam kitab-kitab yang membahas tentang ilmu bumi dan sejarah. Misalnya tulisan agama-agama lain terdapat di dalam Kitab ad-Din wad-Dawlah karangan Ali ibn Sahl Rabban at-Thabari. Namun harus diakui bahwa beberapa tulisan tersebut bersifat apologis.

Selanjutnya pada abad ke-11 tampillah Ibn Hazm (994-1064), salah seorang penulis besar dalam Islam, telah menulis kitab sekitar 400 jilid tentang sejarah, teologi, hadits, logika, syair, dsb. Kitabnya yang berkaitan dengan agama lain ialahAl-Fasl fil-Milal wal-Ahwa’ wan-Nihal. Di dalam kitab tersebut Ibn Hazm membahas tentang agama Kristen dan Kitab Bible.

Kemudian salah seorang penulis Muslim terkemuka, Muhammad Abdul Karim Asy-Syahrastani (1071-1143) menulis Kitab Al-Milal wan-Nihal (1127). Di dalam kitab tersebut ia membagi agama menjadi: Islam, Ahlul Kitab dan orang yang mendapatkan wahyu tetapi tidak tergolong Ahlul Kitab, yaitu orng-orang yang bebas berpikir dan ahli-ahli filasafat.

Namun haruslah diakui bahwa perkembangan pebandingan agama di dunia Islam tidak luput dari apologi. Tulisan yang bersifat apologis ini tampak dalam tulisan Ahmad as-Sanhaji Qarafi (meninggal 1235) dalam bukunya  Al-Ajwibah al-Fakhirahan al-As’ilah al-Fajirah. Kitab ini merupakan jawaban terhadap buku Risalah ila Ahad al-Muslimin yang dikarang oleh Uskup dari Sidon. Muhammad Abduh menulis bukuAl-Islam wan Nashraniyah ma’al ‘ilmi wal-Madaniyah, sebagai jawaban terhadap tulisan-tulisan Farah Antun dalam Al-Jami’ah. Masih banyak beberapa tulisan dari penulis Muslim yang bersifat apologis misalnya Husain Hirrawi, Syaikh Yusuf Nabbani, Ahmad Maliji, Muhammad Ali Maliji, Abdul Ahad Dawud, dsb. Di sini perlulah disebut karangan  apologis yang sangat baik, yaitu buku The Spirit of Islam, karangan Ameer Ali.

Secara garis besar dapatlah disimpulkan bahwa perkembangan Ilmu Perbandingan Agama di dunia Islam kurang menguntungkan dibandingkan dengan Barat. Sebagian besar kitab yang dikarang oleh penulis Muslim bersifat apologis. Kitab-kitab yang membahas tentang agama lain banyak yang tidak orisinil sumbernya. Sedikit yang orisinil dan itupun hanya mengenai agama Kristen.[4]

 

III. Aliran-aliran dalam Ilmu Perbandingan Agama

Mukti Ali menjelaskan dengan detail mengenai aliran-aliran tersebut, yaitu :

  1. Teori Evolusi – kepercayaan dalam sebuah agama berkembang bukan dari mono-theisme, melainkan dari kepercayaan politheisme menuju monotheisme. Dengan demikian monotheisme adalah bentuk terakhir dan tesempurna dari kepercayaan dan agama umat manusia. Max Muller berpendapat bahwa asal usul agama itu adalah penyembahan kepada alam yang bersifat henotheistik, kemudian menjadi polytheisme – turun lagi menjadi fethisisme dan akhirnya mengarah pada pantheisme atau theisme (monotheisme).

E.B. Tylor dan Andrew Lang memiliki pemikiran yang berbeda dengan Max Muller. E.B Tylor mengatakan bahwa asal usul kepercayaan manusia itu bukan dari penyem-bahan alam yang bersifat henotheistik, melainkan dari animisme. Herbert Spencer juga memiliki pemikiran yang sama dengan E.B. Taylor.
Apapun pemikiran mereka – mereka berkeyakinan bahwa kepercayaan manusia mengalami proses penyempurnaan termasuk didalamnya terjadinya evolusi terhadap Tuhan yang menjadi pusat peryembahan.

  1. Oermonotheisme – aliran ini berpendapat bahwa agama tidak mengalami proses evolusi dari penyembahan atau berTuhan banyak (polytheisme) menjadi berTuhan satu (monotheisme), tetapi agama sejak dahulu adalah monotheistik dan berTuhan satu. Andrew Lang menemukan sebuah kenyataan bahwa masyarakat primiti telah menganut ajaran monotheisme bukan dari proses evolusi.
  2. Revelation Theory – aliran ini berbendapat bahwa idea tentang adanya Tuhan tidak datang dari proses evolusi, melainkan dengan revelation (menurut wahyu). Pendapat ini dikemukan oleh Wilhem Schemidt (1868). Kesimpulan ini diambil setelah Wilhem Schemidt melakukan analisis terhadap kepercayaan dan agama yang berkembang pada masyarakat primitive. Ia mendapatkan bukti-bukti bahwa asal usul kepercayaan masyarakat primitif adalah monotheisme dan monotheisme ini tidak lain adalah ajaran wahyu dari Tuhan (revelation).[5]

 

IV. ORIENTALISME DAN OCCIDENTALISME

Apa yang dinamakan orientalisme, atau pengetahuan orang-orang Barat tentang agama, kebudayaan, sastra dan bahasa-bahasa Timur sudah lama berkembang di Barat. Latar belakang sejarah dapat kita lihat adanya perhatian Barat terhadap soal-soal Timur, mulai timbul sejak Perang Salib yang berlangsung tidak kurang dari dua abad lamanya, yaitu antara tahun 1096 – 1297.

Bahwa kontak Barat dan Timur dalam Perang Salib itu, membukakan kesadaran baru barat terhadap Timur. Bahwa ummat Islam yang dulunya mereka anggap sebagai suatu golongan masyaratak yang biadab tidak sopan, dengan perantaraan Perang Salib, Barat terpaksa sadar bahwa sebenarnya umat Islam itu adalah suatu golongan ummat manusia yang sopan dan berkebudayaan. Mereka insaf bahwa peradaban dan kebudayaan dunia Islamdalam waktu itu adalah lebih maju kalau disbanding dengan siviliasi yang sedang mereka miliki. Yang lebih mendorong lagi Barat untuk mempelajari dunia Timur, khususnya masyarakat Islam, ialah expansi Turki kepada negara-negara Barat. Kota demi kota jatuh ketangan Turki-Islam. Konstantinopel jatuh pada tahun 1529 tentara Turki sampai ke pintu gerbang Vienna, disusul lagi dengan tergulungnya armada Spanyol yang besar dari pantai Aljazair.

Faktor-factor detail yang menyebabkan kesulitan tersebut antara lain ialah :

  1. Tidak sedikit dari pada orientalis-orientalis itu yang mempelajari agama Islam tidak atau kurang mengerti bahasa Arab ; dan dalam pembahasannya itu mereka banyak tergantung kepada terjemahan-terjemahan yang belum tentu tepat.
  2. Orientalis-orientalis yang mengerti bahasa Arab dan terlatih berpikir dalam bidang agama, dalam pembahasannnya tentang maslah-masalah Timur tidak atu kurang dilengkapi dengan berbagai ilmu masyarakat; hingga dengan demikian hasil penyelidikan merekakurang tepat, karena kurang memahami pengaruh yang timbale – balik antara agama dan masyarakat Timur adalah jauh berlainan dengan masyarakat Barat.
  3. Atau sebaliknya, orientalis-orientalis yang terlatih berpikir dalam bidang social tidak mempunyai persiapan tentang pengetahuan agama, hingga dengan demikian hasil penyelidikan mereka tentang masalah-masalah Timur itu terlalu kering.
  4. Kurang luasnya pengertian mereka tentang ide, ideal dan aspirasi masyarakat Timur. Hal ini disebabkan, karena anggapan mereka yang skeptis, bahwa apa saja yang ditulis dengan bahasa Arab adalah “tidak-orisinil”.
  5. Dan sebab yang lain – barangkali saja ini adalah sebab yang terpenting, ialah sikap mereka terhadap masyarakat Timur, yang menganggap bahwa bangsa-bangsa Timur itu adalah jauh labih rendah dan lebih bodoh dari pada bangsa Barat. Sikap yang tipis kolonialistis-imperialistis.

Untuk mengantisipasi orientalisme, muslim harus mengembangkan occidentalisme. Di samping itu dengan mempelajari Ilmu Perbandingan Agama, meneliti dan mengembangkannya, seorang Muslim dapat mengkaji agama-agama lain terutama yang berada di Barat, sehingga dengan sendirinya akan mengembangkan Occidentalisme atau pemahaman tentang budaya dan agama Barat.  Sehingga seorang Muslim tidak hanya membiarkan agama Islam sebagai obyek kajian para Orientalis , tetapi juga menjadi subyek dengan mengkaji agama-agama selain Islam (terutama agama orang Barat).[6]

 

 

V. Sikap Seorang Muslim Terhadap Agama Lain

Dalam mempelajari agama-agama lain, seorang Muslim tidak boleh melupakan sumber kitab yang pokok, ialah al-Qur’an. Al-Qur’an bukan hanya merupakan sumber pokok saja untuk menghampiri agama lain, tetapi juga merupakan peraturan lengkap tentang kepercayaan dan amal perbuatan orang. Hal ini perlu diperingatkan karena (Ilmu Perbandingan Agama) yang berusaha memahami kepercayaan-kepercayaan dan agama-agama lain, dikawatirkan orang yang melakukannya itu menganggap bahwa Al-Qur’an itu adalah sejajar dengan literatur-literatur dari agama-agama lain. Bagi seorang Muslim yang ingin mendalami agama-agama lain hendaknya sadar bahwa Al-Qur’an itulah sumber yang paling utama disamping sumber-sumber dari agama-agama lain. Hal ini disebabkan bukan hanya karena seorang Muslim yakin, bahwa Al-Qur’an itulah yang yang memuat ajaran-ajaran yang benar, tetapi juga karena memang sebenarnya Al-Qur’an itulah membuat bahan-bahan yang sangat penting untuk memahami agama-agama lain[7]

 

VI. Guna dan Faedah Ilmu Perbandingan Agama bagi Seorang Muslim

Ilmu Perbandingan Agama mempunyai banyak manfaat bagi seorang Muslim. Adapun beberapa manfaatnya  adalah sebagai berikut:

  1. Dapat memahami kehidupan batin, alam pikiran dan kecenderungan hati dari berbgai umat manusia.
  2. Dengan mengetahui agama-agama lain seorang Muslim dapat mencari persamaan-persamaan (lebih tepat kesejajaran-kesejajaran ) antara agama Islam dengan agama-agama lain. Dengan demikian dapat membuktikan di mana letak keunggulan agama Islam dibandingkan agama-agama lain. Selanjutnya dapat mengetahui bahwa agama-agama sebelum Islam itu sebagai pengantar terhadap kebenaran yang lebih luas dan lebih penting, yaitu agama Islam.
  3. Dengan membandingkan agama Islam dengan agama-agama lain dapat menimbulkan rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapatkan petunjuk tentang kebenaran. Selanjutnya akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam agama Islam kepada masyarakat luas.
  4. Dengan membandingkan ajaran-ajaran agama Islam dengan ajaran agama-agama lain akan memudahkan untuk memahami isi dari agama Islam itu sendiri. Bahkan dengan cara membandingkan  tersebut dapat memperdalam keyakinan seorang Muslim terhadap ajaran-ajaran yang terkandung di dalam agama Islam itu sendiri, atau dapat menampakkan mutu manikam ajaran Islam yang kadang-kadang tidak disadari sebelum dibandingkan dengan agama lain.
  5. Dengan mengetahui konsep-konsep ajaran agama lain seorang Muslim akan dapat belajar menemukan konsep-konsep yang mudah dicerna orang lain. Sebab sering ajaran Islam sulit difahami orang lain karena orang Islam sendiri sering mengemukakan konsep-konsep ajaran Islam yang rumit dan sulit.
  6. Dengan mengetahui ajaran-ajaran agama lain seorang Muslim dapat lebih baik dalam berdakwah. Sebab ia dapat lebih baik dalam menentukan metode, materi, konsep-konsep, strategi, dsb. sesuaia dengan sasarannya.
  7. Pada era globalisasi ini dimana bangsa-bangsa, suku-suku, golongan-golongan, dengan lebih mudah saling bertemu dan berkomunikasi karena berbagai kepentingan, maka pengetahuan akan agama-agama lain sangat dibutuhkan. Karena dengan bertemunya macam-macam bangsa, suku dan golongan tersebut pada dasarnya juga saling bertemu agamanya. Selanjutnya dengan memahami ajaran-ajaran agama lain seorang Muslim akan lebih mudah toleran dan hidup rukun dengan orang yang beragama lain. Akibat lebih jauh dengan adanya kerukunan hidup beragama itu para pemeluk agama-agama dapat saling bersatu untuk perdamaian dunia, mengentaskan kemiskinan, membangun bangsanya atau dunia, memerangi kejahatan, meninggikan moral, dsb.[8]

 

Referensi :

Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, (Yogyakarta: Yayasan Nida kompleks IAIN Yogya)

 


[1] Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, (Yogyakarta: Yayasan Nida kompleks IAIN Yogya), Halaman 5

[2] Ibid, Halaman 7

[3] Ibid, Halaman 11-14

[4] Ibid, Hal 15-19

[5] Ibid,  Hal 19-27

[6] Ibid,  Hal 28-32

[7] Ibid,  Halaman 32-35

[8] Ibid , hal 38-41


Komentar
  1. Anonim mengatakan:

    Izin Tag gan😀

Berikan comment anda untuk apresiasi dan perbaikan tulisan ini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s