tinjauan umum agama yahudi

Posted: Desember 28, 2011 in perbandingan agama
Tag:, , , ,

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.             
  1. B.                 Alasan Pembahasan

Agama Yahudi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam sejarah agama-agama. Ia merupakan agama monotheisme tertua di dunia. Ia memiliki peranan yang sangat besar untuk memahami ciri-ciri agama masa silam di Timur Dekat. Ia memiliki ikatan yang erat dengan agama Kristian dan Islam. Selain itu, agama Yahudi juga memiliki peranan yang sangat penting untuk memahami sejarah bangsa Yahudi dan mengetahui gerakan Zionis moden. Jika melihat ciri agama kuno di kawasan Timur Dekat, maka agama Yahudi menjadikan monotheisme sebagai ideologi utama dan ini dapat dijadikan landasan bagi mengetahui ciri agama-agama non-monotheisme yang meyakini banyak tuhan yang merupakan salah satu bentuk ritual yang tersebar di dunia pada masa lampau. Agama bangsa Israel berbeda secara prinsip dengan agama lain yang tersebar luas pada masa itu. Agama bangsa Israel tidak mengenali polytheisme, mereka hanya mengenali monotheisme. Di sini jelaslah betapa penting peranan agama Yahudi.

 

 

 

 

BAB II

Tinjauan umum Agama Yahudi

  1. A.                Asal-usul Agama Yahudi

Istilah Yahudi (Bhs. Ibrani:  Yehud) secara etimologis berasa dari kata Judah (Yehudah) sebuah eponim dari bibel suku Judah. Bahasa Yunani menyebut Yahudi dengan Ioudaia.[1] Asal-usul Yahudi tidak bisa terlepas dari sosok Ibrahim yang dalam hal ini dipandang sebagai nenek moyang tiga agama samawi yaitu Yahudi, kristen dan Islam. Ibrahim tampil dalam pentas sejarah sekita 3.700 tahun yang lalu. Ia adalah anak seorang pemahat petung istana bernama Azar yang berasal dari Babylonia.

Sejak kecil Ibrahim sudah menampilkan cara berpikir yang kritis. Suatu saat ia melihat hal yang tidak sesuai dengan akal sehatnya, ayahnya memahat batu dan setelah selsai sang ayah menyembah batu tersebut. Ibrahim berontak melihat hal itu. Penolakan itu membuat Ibrahim dihukum dengan cara dibakar, tetapi Ibrahim berhasil diselamatkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.[2] Ibrahim kemudian Hijrah ke Kanaan (Palestina Selatan) bersama para pengkutnya. Dari situlah sejarah Bani Israil lahir, dimulai pada Abad Perunggu ketika orang-orang Semit pindah ke peradaban di Lembah Eufrat lalu menatap di kawasan perbukitan di Kanaan Tengah dan Kanaan Selatan, di tepi Laut Tengah (setalah hancurnya kota tua Ur.). Ibrahim menjadi pemimpin mereka karena keimanan dan kesalehannya pada Tuhan Yang Maha Esa. Dan karena alasan itu pula Ibrahim dijanjikan akan menjadi sumbe rahmat yang lestari bagi bangsa-bangsa di bumi.[3]

Suatu ketika, daerah Kanaan mengalami wabah paceklik, Ibrahim lalu pergi ke Mesir bersama istrinya yang bernama Sarah. Mereka menetap disana untuk sementara waktu. Kehadiran Ibrahim sangat mengesankan Fir’aun, raja Mesir yang kemudian menghadiahinya seorang budak perempuan bernama Hajar. Waktupun terus berjalan dan usia Ibrahim semakin tua, namun ia juga belum memiliki keturunan. Iapun berdoa memohon kepada Tuhan agar diberi keturunan untuk meneruskan misi kemanusiaan. Sarah lantas mengizinkan Ibrahim menikahi Siti Hajar. Dari dialah Ibrahim kemudian dianugrahi keturunan yang bernama Ismail.[4]

Ibrahim sangat mencintai Ismail dan ibunya, Hajar, sehingga menimbulkan perasaan cemburu bagi Sarah, istri pertamanya. Sarahpun meminta Ibrahim untuk membawa Ismail dan ibunya keluar dari rumah tangga mereka. Ibrahim diberi petunjuk (melalui Jibril) untuk membawa anak dan istrinya ke daerah selatan Kanaan, sampai ke suatu lembah yang tandur dan gersang yaitu Makkah. Hajar dan Ismail tinggal di daerah itu. Sementara Ibrahim sesuai dengan petunjuk Tuhan kembali ke Kanaan dan sesekali menyempatkan diri untuk menjenguk Ismail di Makkah sampai anaknya itu dewasa.

Dengan izin dan kekuasaan Tuhan akhirnya Ibrahim dan Sarah dikarunia seorang anak yang bernama Ishaq. Putra tersebut nantinya akan menjadi Nabi dan Rasul Allah untuk mengemban mengajari umat tentang faham tauhid. Ajaran Ibrahim tersebut diteruskan oleh putar-putranya yakni Ismail dan Ishaq. Ishaq dianugrahi Tuhan seorang anak yakni Ya’qub dengan gelar Israel.[5] Kemudian Ya’qub mempunyai 12 putra, 10 orang dari Rubin (istri pertamanya) yaitu: Simon, Lewi, Yahuda, Zebulon, Isakhar Dan, Gad, Asyar dan Naftali. Serta 2 anak dari istri kedua yaitu Yusuf dan Benyamin. Mereka inilah yang menjadi cikap bakal 12 suku yang beberapa waktu kemudian membentuk Bani Israel.[6]

Agama Yahudi memiliki beberapa nama sepanjang sejarah panjang yang dilaluinya. Pada fasa pertama sejak kemunculannya, agama Yahudi diberi nama ‘agama para leluhur’. Apa yang dimaksudkan dengan leluhur di sini adalah sekumpulan tokoh-tokoh kenabian yang dimulai dengan Adam (a.s) dan diakhiri dengan Musa serta Harun. Sesuai dengan periode sejarah Yahudi, maka ‘agama para leluhur mencakupi sejarah agama pada periode Ibrani yang dimulai dengan Ibrahim (a.s) dan periode ini tidak masuk ke dalam nama periode Ibrani, sebaliknya para sejarawan Yahudi memasukkannya ke dalam masa para leluhur dan agama mereka. Periode Ibrani berakhir dengan penyebutan nama Israel kepada Ya’qub (a.s) dan permulaan periode Israel dimulakan sejak masa Ya’qub (a.s) sampai abad ke-VI SM ketika muncul nama baru yakni agama Yahudi pada periode penawanan Babilonia. Inilah yang dipakai hingga sekarang.[7]

Adalah Ibrahim, Ishaq, Ya’qub dan anak-anak Ya’qub yang merupakan asal-usul suku Bani Israel. Sebagian pakar sejarah Yahudi cenderung memasukkan Adam dan Nuh ke dalam kelompok para leluhur tersebut di atas untuk membuktikan kebenaran riwayat-riwayat Taurat yang secara menceritakan kedua-dua tokoh tersebut dalam kitab Kejadian, di samping menegaskan keistimewaan silsilah keturunan Bani Israel sejak awal penciptaan. Meskipun demikian, para leluhur yang menjadi topik pembicaraan warisan Israel adalah Ibrahim dan Ishaq (a.s), kemudian anak-anak Ya’qub (a.s). Sebagian pakar sejarah menyudahi silsilah keturunan para leluhur ini dengan Musa (a.s) sedangkan kebanyakan pakar sejarah menganggap Musa (a.s) sebagai permulaan fasa sejarah dan agama baru dalam tradisi Israel.[8]

Tokoh utama pada masa para leluhur adalah Ibrahim yang dikaitkan dengan suatu agama tersendiri yang menjadi permulaan sejarah dan agama Israel kuno, dan dikaitkan pula dengan permulaan perjanjian-perjanjian agama yang banyak ditentukan bersama Tuhan. Beliau, menurut teks Taurat, menjadi moyang bagi majoriti bangsa, dan teks Taurat menyebut Tuhan yang disembah oleh para leluhur dengan nama Yahweh (dan Yahweh memiliki beberapa gelaran yang mengisyaratkan penyatuan dalam lingkungan bangsa Kan’an, di antaranya El-Elyon, El-Olam, El-Shaddai dan El-Bethel) (Grant, 1984:34).

Nama Yahweh muncul belakangan dan menyembahnya secara mutlak dikaitkan dengan zaman Musa (a.s). Menurut pendapat yang paling kuat, agama para leluhur adalah agama monotheis yang sederhana. Ada satu pendapat yang kuat menganggap agama orang Ibrani purba adalah agama paganisme yang mengenali beberapa Tuhan sebelum akhirnya tetap menyembah Yahweh yang dapat dipastikan bahwa Dia adalah salah satu dari tuhan-tuhan yang disembah oleh bangsa Ibrani ini. Dapat dipastikan pula bahwa agama para leluhur adalah agama tribalisme di mana kabilah terikat dengan Tuhannya dalam ikatan ras dan darah (Anderson, 1966:15-20).[9]

Ciri fasa pertama dari fasa-fasa perkembangan agama Yahudi ini dapat disimpulkan bahwa agama para leluhur bangsa Ibrani sebelumnya adalah agama sederhana yang tidak rumit dan didominasi oleh ciri masyarakat nomaden, seperti agama Arab sebelum Islam. Agama tersebut tidak mengandungi akidah yang komrehensif dan konsep keagamaan satu-satunya yang memulai peranannya selama fasa ini adalah konsep tauhid. Namun tauhid tersebut tidak dimulai sebagai tauhid murni, melainkan tauhid yang berusaha mencari jalannya di tengah-tengah system multi-tuhan yang diyakini oleh orang Ibrani purba telah menyembah-Nya sampai para leluhur tersebut menyembah Yahweh yang dikenal nama-Nya pada zaman Musa (a.s) (Grant, 1984:33 dan Anderson, 1966:21). Dengan demikian, agama asal orang Ibrani adalah agama polytheismepaganisme dan bukti-bukti tauhid baru muncul di tangan sebagian leluhur yang antara lain Ibrahim (a.s) yang dianggap masanya sebagai masa permulaan tauhid dan permulaan sejarah agama tauhid. Sementara fasa-fasa yang mendahului masa Ibrahim dipastikan sebagai fasa-fasa paganisme-polytheisme.

Di samping agama ‘para leluhur’ ini hampa dari keyakinan-keyakinan yang sistematik, Agama tersebut juga hampa dari syari’at-syari’at yang mengatur kehidupan orang Ibrani pada waktu itu di mana hidup mereka berpandu kepada hukum adat dan tradisi kesukuan serta aturanaturan kehidupan nomaden. Buktinya, tumpuan pakar sejarah Yahudi tidak menjumpai adanya wahyu bertulis pada masa para leluhur. Inilah yang membentuk pemikiran pakar sejarah bahwa tidak wujud struktur keyakinan dan peraturan yang komprehensif bagi fasa sejarah agama Yahudi ini. [10]

Agama Musa (a.s) merupakan fasa kedua dari fasa perkembangan agama Yahudi sebagai akidah dan syari’at, iaitu fasa paling penting dalam perkembangan agama ini, kerana pada fasa ini wahyu bertulis dijadikan sumber utama bagi akidah dan syari’at. Agama Musa dimulai pada fasa keberadaan bangsa Ibrani di Semenanjung Sinai. Inilah kawasan padang pasir yang membentuk agama Musa. Sifat-sifat nomaden padang pasir membezakan bangsa Israel sebelum memasuki negeri Kan’an. Inilah permulaan perubahan sosial, ekonomi dan agama dalam kehidupan orang Ibrani akibat perpaduan dengan peradaban bangsa Kan’an dan pengaruh keagamaan terhadap agama Israel sesudah masa Musa (a.s).[11]

Meskipun ada kemajuan pada tingkat pemikiran keagamaan, namun agama Musa tetap menjadi agama yang sederhana dalam tata cara ibadahnya. Pada periode ini, Yahweh diperkenalkan dan nama ‘Yahweh’ pun diisytiharkan untuk kali yang pertama. Meskipun pakar sejarah Yahudi menegaskan Yahweh adalah Tuhan Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub, namun di dalam Taurat tidak ada teks-teks yang menunjukkan kebenaran kenyataan itu dan demikian pula dalam peninggalan-peninggalan warisan agama Yahudi yang lain turut tidak memuat perkara itu.49

Nama Yahweh pula tidak dijumpai dalam teks-teks yang dijumpai pada fasa-fasa sebelum masa Musa (a.s). Semua itu menegaskan bahwa di sekitar Yahweh tidak tumbuh ibadah yang sistematik sebelum Musa (a.s). Namun pengaruh fasa Sasanit turut membentuk agama Yahudi yang dimuatkan dalam kitab Ulangan dan kitab Hakim-Hakim di mana tuhan Yahweh disebut sebagai Tuhan Sinai [Kitab Ulangan 23:2, Hakim-hakim 5:4, Mazmur 68:8]. Sebagian pakar sejarh menegaskan bahwa menyembah Yahweh telah dikenali di semenanjung Sinai 49 Ada beberapa isyarat kepada Yahweh yang kembali kepada sumber Yahudi dalam kitab Kejadian 4:62, 15:7, 24:3, ketika menggunakan nama Yahweh sebelum masa Musa dan para pakar kritik Perjanjian Lama menganggapnya sebagai tambahan-tambahan sumber Yahudi. Rujuk Anderson, hal. 32.[12]

Di kalangan beberapa kabilah Arab di Sinai, khususnya di kalangan penduduk Madyan dan ketika itu Musa telah mengenali Tuhan Yahweh melalui Yitro (di dalam al-Qur’an disebut Syu’aib) di mana anak perempuannya kemudian dikahwini oleh Musa (a.s). Kenyataan ini turut disokong oleh Taurat dan menegaskan bahwa Yitro adalah seorang imam dan penyembah Yahweh serta selalu mempersembahkan qurban kepada-Nya [Kitab Keluaran 18: 10-12] (Anderson,1962:32).

Agama ini memiliki ciri nasionalisme sehingga ia berubah menjadi satu agama bagi bangsa tertentu pula sedangkan konsep dan keyakinannya pun ditafsirkan mengikut tafsiran nasionalisme. Apa yang dimaksudkan dengan perkembangan agama Yahudi adalah ia mengandungi akidah dan syari’at yang belum sempurna, sebaliknya ia muncul dalam keadaan serba kurang dan kemudian mula memasuki fasa-fasa perkembangan hingga akhirnya mencapai tingkat sempurna. Di masa akn datang, pintu masih dibuka baginya untuk terus berkembang supaya mencapat kedudukan yang lebih sempurna. Ini bererti faktor sejarah memiliki peranan besar dalam menggagas agama Yahudi sampai ke suatu batasan di mana agama Yahudi dapat dikatakan sebagai agama sejarah yang dikendali oleh perjalanan sejarah Yahudi, baik zaman dahulu mahupun zaman sekarang. Faktor sejarah pula memiliki peranan utama dalam membentuk perjalanan agama Yahudi ini. Ini bermakna agama Yahudi dimulai dalam sejarah sebagai agama yang sederhana, kemudian berkembang mengikut perjalanan sejarah. Penambahan dan perkembangan dalam agama Yahudi yang sebelumnya sederhana ini menyebabkannya menjadi rumit sehingga membuatnya jauh dari kesederhanaannya yang dahulu kala.

 

 

 

  1. B.     Pendiri/ Pembawa Agama Yahudi

Meskipun ada perbedaan pandangan seputar kepribadian Musa, namun pada fasa selanjutnya Musa dianggap sebagai model utama seorang nabi bagi bangsa Israel. Zaman Musa dianggap sebagai masa kenabian yang sebenar dalam peninggalan keagamaan bangsa Israel. Para nabi Bani Israel membangun mimpi, berita kenabian dan reformasi mereka berdasarkan peninggalan Musa. Pelbagai peristiwa yang terjadi sebaik Bani Israel keluar meninggalkan Mesir yang dipimpin Musa dianggap sebagai zaman ideal yang diharapkan dapat berulang kembali oleh setiap nabi Bani Israel setelah Musa. Nabi Yesaya menggambarkan usaha kembali ke Palestin setelah penawanan di Babilonia sama seperti gambaran keluarnya Bani Israel dari Mesir. Dalam peninggalan Yahudi generasi belakangan Musa digambarkan sebagai seorang suri tauladan utama. Musa adalah wahyu tuhan yang telah ditentukan untuk agama[13] orang Israel. Musa adalah pahlawan bangsa Israel. Musa adalah pendiri agama dan sejarah bangsa Israel. Musa sering kali digambarkan sebagai seorang nabi sekaligus raja pada zaman raja-raja dalam sejarah bangsa Israel tidak memiliki ciri spritual dan moral. Semua itu ada dalam diri Musa. Meskipun Musa bukan raja dengan makna yang sebenar, tetapi kitab Ulangan menyebutkan sifat ini terhadap Musa. Kepimpinan Musa dalam peperangan dan kehebatannya membimbang bangsa Israel menyerupai seorang raja. Zaman Musa dianggap sebagai zaman keagungan.

Di samping itu, Musa adalah seorang nabi. Gelaran nabi diberikan kepada Musa untuk kali yang pertama dalam Perjanjian Lama, dalam kitab Hosea 12: 13. Dalam teks tersebut disebutkan: “Israel dituntun oleh tuhan keluar dari Mesir dengan perantaraan seorang nabi. Ya, ia dijaga oleh seorang nabi.” Beberapa sifat kenabian Musa disebut dalam Taurat. Sifat pertama dinisbahkan kepada Musa bahwa dia berbicara kepada bangsa Israel dengan menggunakan firman tuhan. Ini merupakan salah satu peranan seorang nabi. Ini disebutkan dalam Keluaran 4:12: “Oleh itu, pergilah, aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kau katakan.” Kitab Bilangan 11:17 menyebutkan sifat lain yang dimiliki seorang nabi bangsa Israel bahwa roh kudus turun menghadap kepadanya: “Maka aku akan turun dan berbicara dengan engkau di sana, lalu sebagian dari Roh yang hinggap padamu itu akan kuambil dan kutaruh atas mereka.” Ayat-ayat Taurat menyebutkan keistimewaan Musa berbanding nabi-nabi Bani Israel yang lain kerana dia menjadi perantara Bani Israel dengan tuhan. Dalam kitab Bilangan 12:6-8 disebutkan: “Lalu berfirmanlah ia: “Dengarlah firmanku ini. Jika di antara kamu ada seorang nabi, maka aku, tuhan menyatakan diriku kepadanya dalam penglihatan, aku berbicara dengan dia dalam mimpi. Bukan demikian hambaku Musa, seorang yang setia dalam segenap rumahku. Berhadap-hadapan aku berbicara dengan dia, terus terang, bukan dengan teka-teki.” Dalam kitab Ulangan disebutkan keistimewaan Musa berbanding nabi-nabi Bani Israel yang lain: “Seperti Musa yang dikenal tuhan dengan berhadapan muka, tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel.” [Ulangan 34: 10].

 

  1. C.    Sistem Ketuhanannya

Beberapa peneliti menegaskan bahwa Yahweh adalah tuhan nenek moyang Musa dan beliau menjadikan-Nya sebagai Tuhan rasmi bagi para pengikutnya dengan tetap memakai nama yang sama, Yahweh. Di sini agama Yahudi berubah menjadi agama orang Israel di tangan Musa dan berkat usaha beliaulah agama ini menjadi terkenali. Perlu diingat bahwa keyakinan tauhid bersebati pada zaman Musa (a.s), tetapi dalam lembaran-lembaran Taurat ditegaskan bahwa tauhid ini khusus bagi orang Israel. Ini kerana terdapat isyarat yang menunjukkan adanya tuhan-tuhan lain bagi kaum-kaum selain orang Israel. Ini bererti tuhan Israel bukanlah satu-satunya Tuhan yang memiliki sifat wujud. Sebab selain Dia terdapat tuhan-tuhan lain, tetapi itu tidak terjadi untuk kalangan orang Israel.

Barangkali keyakinan yang dianut pada masa itu adalah pengakuan adanya tuhan-tuhan lain sebagai fakta-fakta yang tidak mungkin dipungkiri sekali gus tidak mengakui mereka sebagai Tuhan yang berada satu tingkatan dengan Tuhan Yahweh. Dengan erti kata lain, tuhan-tuhan selain Yahweh itu tetap diakui keberadaannya namun mereka bukanlah tuhan hakiki yang memiliki peranan yang menciptakan atau  bertugas mengawasi alam atau mengendalikan pelbagai peristiwa penting. Ini kerana tuhan yang hakiki hanyalah Yahweh yang mentadbir sekalian alam.

Pada zaman Musa (a.s) untuk pertama kalinya ditetapkan tentang ciri khusus bagi sifat Tuhan. Antara ciri yang paling penting adalah tuhan tidak mungkin dapat dibayangkan atau dijelmakan dalam bentuk dan rupa apa pun seperti mana yang dilakukan oleh penganut paganism terhadap tuhan-tuhan mereka. Perintah kedua dari sepuluh perintah menyebutkan: “Jangan kau buat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” [Kitab Keluaran 20:4].

Perintah ini memberikan bentuk metafisikbagi Tuhan dengan makna bahwa Dia adalah tuhan yang maha suci dari alam yang diciptakan-Nya dan tidak mungkin dapat membayangkan-Nya dalam bentuk apa pun dari bentuk-bentuk alam yang diciptakan itu. Dia adalah tuhan yang tidak berbentuk yang tidak bergantung kepada alam. Dia bersifat metafizik, kerana Dia adalah penciptanya. Dalam perintah pertama terdapat teks yang menegaskan satu sifat asas Tuhan, iaitu sifat tauhid (esa): “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku” [Kitab Keluaran 20:3]. Selain itu, mukaddimah perintah juga memberikan satu sifat lain bagi Tuhan, meskipun tidak dalam bentuk perintah, iaitu sifat menguasai sejarah dan peristiwa-peristiwanya. Tuhan adalah tuhan sejarah yang menggerakkan peristiwanya dan mengendalikan perjalanannya. Mukaddimah perintah yang sepuluh dalam kitab Keluaran (Eksodus) mengingatkan orang Israel tentang perbuatan Tuhan yang telah berlangsung dalam sejarah berupa membebaskan orang Israel dari perhambaan bangsa Mesir: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perhambaan” [Kitab Keluaran 20:2]. Ini perhambaan yang hampir memperkenalkan Tuhan melalui perbuatan-Nya dalam sejarah. Tuhan turut disifatkan di dalam perintah yang sepuluh sebagai ‘Tuhan yang cemburu’ yang menimpakan kemurkaan-Nya kepada orang Israel yang tidak berhenti dari menyembah berhalaberhala buatan: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu” [Kitab Keluaran 20:5][14]

 

  1. D.    Kitab-kitab Sucinya

Orang yahudi meyakini bahwa allah (g-d , yahweh, tuhan ) telah menurunkan kepada musa:

  • Taurat tertulis, yang kemudian biasa disebut taurat saja, torah, atau tanakh, yang berisi lima kitab nabi musa : genesis (kejadian), eksodus (keluaran), leviticus (imamat), numbers (bilangan), dan deuteronomy (ulangan). namun terkadang istilah tanakh atau taurat tertulis juga dipakai untuk menyebut keseluruhan bagian yang biasa disebut oleh orang kristen sebagai perjanjian lama (the old testament) dan merupakan bible bagi orang yahudi (jewish bible). mereka meyakini bahwa tanakh merupakan firman allah yang didiktekan kepada nabi musa lalu musa menuliskannya dalam dua buah lempeng batu, dan hal itu terjadi saat nabi musa menemui allah di bukit sinai selama empat puluh hari empat puluh malam. dan, nabi musa menerima pendiktean wahyu itu dua kali, karena menurut mereka nabi musa telah memecahkan kedua lempeng batu yang diterima kali pertama saat marah melihat umatnya ternyata menyembah patung lembu dari emas. sehingga, ia terpaksa mengambil lempengan batu dan menuliskan wahyu lagi untuk kedua kalinya.[15]
  • Taurat Lisan – yang biasa disebut sebagai Talmud. Secara singkat dapat dikatakan, orang Yahudi meyakini bahwa Talmud merupakan penjelasan atau perincian atas Taurat (Tanakh). Adapun Talmud sendiri terdiri atas dua komponen : 1) Mishnah, yang merupakan versi utama karena ditransmisikan turun temurun secara lisan dari Nabi Musa ke Nabi Joshua, lalu ke Para Tua-tua, lalu ke Para Nabi-nabi, sampai pada Generasi Great Assembly yang dipimpin oleh Ezra, yakni sampai abad kedua Masehi. 2) Gemara, yang merupakan versi analisis atau pelengkap atau komplemen atau komentar atas Mishnah, karena baru muncul dengan versi yang berbeda-beda pasca generasi Great Assembly (abad kedua Masehi). Kumpulan Mishnah dan Gemara itulah yang kemudian disebut sebagai Talmud. Ada dua versi Talmud akibat perbedaan isi Gemara yang ada pada masing-masing dari keduanya. Pertama, Talmud Jerussalem yang dikodifikasikan pada abad ketiga Masehi. Kedua, Talmud Babilonia yang dikodifikasikan pada abad kelima Masehi.[16]

Kitab Talmud berarti “kitab ajaran agama dan kepribadian Yahudi”. Orang yahudi berkeyakinan bahwa Talmud setingkat dengan Taurat dan dianggap lebih agung. Imam Yahudi dianggap sah apabila mengilhami Talmud tanpa perlu mengimani Taurat.[17]

Talmud (bahasa Ibrani: תלמוד) adalah catatan tentang diskusi para rabi yang berkaitan dengan hukum Yahudi, etika, kebiasaan dan sejarah. Talmud mempunyai dua komponen: Mishnah, yang merupakan kumpulan Hukum Lisan Yudaisme pertama yang ditulis; dan Gemara, diskusi mengenai Mishnah dan tulisan-tulisan yang terkait dengan Tannaim yang sering membahas topik-topik lain dan secara luas menguraikan Tanakh. Istilah Talmud dan Gemara seringkali digunakan bergantian. Gemara adalah dasar dari semua aturan dari hukum rabinik dan banyak dikutip dalam literatur rabinik yang lain. Keseluruhan Talmud biasanya juag dirujuk sebagai ( singkatan bahasa Ibrani untuk shishah sedarim, atau “enam tatanan” Mishnah).[18]

Dalam Kitab Talmud agama Yahudi pun di ajarkan bahwa umat yahudi wajib untuk berusaha semaksimal mungkin agar kekuasaan umat lain di muka bumi dapat di cegah. Kekuasaan harus dipegang oleh kaum yahudi, bagi umat yahudi, apabila kekuasaan tidak berada pada mereka, maka mereka seolah-olah masih dalam kehidupan penawanan.[19]

Mishnah (משנה) adalah kompilasi pandangan dan perdebatan hukum. Namanya sendiri berarti “redaksi”, dari kata kerja shanah שנה, yang berarti “mengulangi” atau “meninjau”. Nama ini mungkin merupakan petunjuk pada metode studi wacana rabinik dengan cara mengulang-ulang secara lisan. Pernyataan-pernyataan dalam Mishnah biasanya singkat dan padat, mencatat pandangan-pandangan singkat dari para rabi yang memperdebatkan sebuah topic, atau mencatat sebuah peraturan yang tidak disebutkan sumbernya, yang tampaknya mewakili sebuah pandangan consensus. Para rabi Mishnah dikenal sebagai Tannaim (tunggal: Tanna תנא). Berbeda dengan Midrash, Mishna hanyalah sebuah catatan dari kumpulan halakha (yang lainnya adalah Tosefta), namun demikian, penataannya menurut topic menjadi kerangka bagi Talmud secara keseluruhan.[20]

 

Mishna terdiri atas enam tatanan (sedarim, tunggal: seder סדר). Masing-masing dari tatanannya mengandung antara 7 dan 12 traktat, yang disebut masechtot (tunggal: masechet מסכת; harafiah: “jaringan”). Masing-masing masechet dibagi menjadi bab-bab (peraqim) yang terdiri dari unit-unit yang lebih kecil yang disebut mishnayot (tunggal: mishnah). Tidak setiap traktat dalam Mishnah mempunyai padanan Gemaranya. Selain itu, tatanan traktat dalam Talmud berbeda dalam kasus-kasus tertentu dengan tatanan di dalam Mishnah; lih. diskusi pada masing-masing Seder.

Y  Tatanan Pertama: Zeraim (“Benih”). 11 traktat. MEmbahas doa dan berkat, tithes, dan hukum-hukum pertanian .

Y  Tatanan Kedua: Moed (“Hari-hari Raya”). 12 traktat. Berkaitan dengan hukum-hukum Sabat dan Hari-hari Raya.

Y  Tatanan Ketiga: Nashim (“Perempuan”). 7 traktat. Berkaitan dengan pernikahan dan perceraian, beberapa bentuk sumpah dan hukum-hukum tentang orang Nazir.

Y  Tatanan Keempat: Nezikin (“Ganti rugi”). 10 traktat. Berkaitan dengan hukum sipil dan kriminal, cara kerja pengadilan dan sumpah.

Y  Tatanan Kelima: Kodashim (“Hal-hal yang suci”). 11 traktat. Berkaitan dengan ritus-ritus korban, Bait Suci, dan hukum-hukum yang mengatur apa yang boleh dan tak boleh dimakan .

Y  Tatanan Keenam: Tohorot (“Kesucian”). 12 traktat. Berkaitan dengan hukum-hukum ritual kesucian.

 

Para pendeta Talmud mengklaim sebagian dari isi kitat Talmud merupakan himpunan dari ajaran yang disampaikan oleh Nabi Musa secara lisan. Sampai kedatangan Nabi Isa, kita ini belum dihimpun secara tertulis seperti saat ini.  Nabi Isa mengutuk tradisi ini ”misnah” (Talmud awal) termasuk mereka yang mengajarkannya karena isi Talmud seluruhnya menyimpang bahkan bertentangan dengan Taurat.[21]

Memang ada kelompok di kalangan Yahudi yang menolak Talmud dan tetap berpegang teguh kepada Taurat. Mereka disebut golongan Karaiyah, kelompok yang sepanjang sejarahnya paling dibenci dan menjadi korban para pendeta Tahudi ortodoks.[22] Taurat dianggap oleh kaum Yahudi ortodoks meupun kristen sebagai Kitab Musa yang diwahyukan kepadanya dari Tuhan.

Kitab suci agama Yahudi (kisew ha-kosdesh) terdiri  dari semua kitab yang terdapat dalam perjanjian lama dari Al-Kitab Kristiani. Dalam Kanon Ibrani, kitab-kita itu disusun dalam 3 bagian :

  1. Taurat (hukum); terdiri dari pentateuch (lima kitab) yang dinisbatkan kepada Musa yakni terdiri dari kitab kejadian, keluaran, imamat, bilangan dan ulangan.
  2. Nebi’im (para Nabi); terdiri dari Nebi’im Permulaan (misalnya Joshua, Para hakim, Samuel, dan Kitab Raja-raja), Nebi’im terakhir yang terdiri dari Isaiah, Jeremiah, Ezekiel dan ”duabelas” ( hosea, Joel, Amos, Abeniah, Jonah, Micah, Nahum, Habbakuk, Zephaniah, Hanggai, Zechariah, dan Malachi).
  3. Kethubim (tulisan suci); yang terdiri dari (a). Mazmur, Amzal, dan Ayub, (b) Lima Maligot, (nyanyian Sulaiman, Ruth, Ratapan, Pengkhotbah, dan Esther, (c) Daniel, Ezra-Nehemiah dan Tawarikh.

Selain itu terdapat juga Talmud yang merupakan terjemahan serta komentar mengenai Torah dari para rabi dan cendekiawan undang-undang. Ini termasuk Mishnah dan Halakah (kode undang-undang masyarakat utama penganut agama Yahudi), Gemara, Midrash dan Aggadah (legenda dan kisah-kisah lama). Kabballah pula ialah teks lama yang berunsur mistik, dan menceritakan zat-zat Tuhan.[23]

Yahudi, kristen dan Islam biasa disebut agama-agama Ibrahimi (Ibrahimic religion) karena pokok-pokok ajarannya merujuk pada ajaran Nabi Ibrahim (sekitar abd ke-18 SM), agama-agama Ibrahimi menekankan keselamatan melalui iman serta keterkaitan atau konsekuensi langsung antara iman dan perbuatan nyata manusia. Menurut agama-agama samawi, tuhan tidak dipahami sebagai sesuatu yang berfokus pada benda-benda (totenisme) atau upaca-upacara (sekramentisme) seperti pada beberapa agama lain, tetapi sebagai sesuatu yang mengatasi alam dan sekaligus menuntut manusia untuk menjalani hidupanya dengan mengikuti jalan tertentu yang ukurannya adalah kebaikan seluruh umat manusia. Dengan kata lain, selain bersifat serba transendental dan mahatinggi, tuhan juga bersifat etikal, dalam arti bahwa ia menghendaki manusia untuk bertingkah laku etis dan bermoral.[24]

Para ahli ilmiah tentang agama-agama menyatakan bahwa Islam dan Yahudi juga sering disebut agama semitik (semitic religion) dan tergolong dalam agama etika (etical religion) yakni agama yang mengajarkan bahwa keselamatan manusia tergantung perbuatan baik. Hal ini berbeda dengan agama Kristen yang juga termasuk agama semintic kerena teologinya berdasarkan doktrin kejatuhan (fall) manusia (adam) dari surga yang menyebabkan kesengsaraan abadi hidupnya, mengajarkan bahwa manusia perlu penebusan oleh kemurahan tuhan dengan mengorbankan putra tunggalnya, Isa al-masih, untuk disalib menjadi Sang Penebus.[25]

Umat Yahudi memiliki masalah tertentu seperti ihwal israel sebagai bangsa pilihan. Selain itu, mereka bermasalah dalam hal keabadian hukum. Masalah etika dan politik dijunjung tinggi dan dihormati oleh agama Yahudi. Prinsip itu diformusikan dalam kalimat yang indah dan menarik. Diawali dengan kata negasi (jangan) dan imprasi (kerjakan) dan kenal dengan ”sepuluh perintah tuhan”. Selain itu masih ada sejumlah keparcayaan mendasar yang ditulis oleh para pemikir dan pemuka agama Yahudi, antara lain, Musa bin Maimun, atau Maimonides pada akhir tahun abad ke-12. [26]

Agama ini mengajarkan bila seorang anak lahir  dari ibu yang Yahudi, maka ia disebut Yahudi, tanpa memandang siapa yang mengasuh dan membesarkan anak itu. Misalnya, anak lahir dari Bapak Yahudi dan ibu non-Yahudi, ia tidak bisa dikategarikan Yahudi, tapi yang bersangkutan bisa berbuat atau melakukan sesuatu sebagai Yahudi, pergi ke sinagong, merayakan hari Sabat, atau hari keagamaan Yahudi lain dan dengan bergaul dengan teman sesama Yahudi. Disisi lain, anak dari bapak non Yahudi dan ibu Yahudi, tetapi dibesarkan/didik sebagai kristen, masih bisa disebut Yahudi menusut kacamata Yahudi, sekalipun asuhan itu membuat ia buta sama sekali tentang agama Yahudi. Yang jelas dalam Yahudi bukan asuhan yang menentukan status anak menjadi Yahudi, tetapi agama ibu (the religion of mother).[27]

 

  1. E.     Madzhab/Sekte dalam Agama Yahudi

Pertama: Sekte Samaria

Sekte Samaria adalah salah satu sekte tertua dalam agama Yahudi. Asal-usulnya merujuk kepada perpecahan kerajaan Sulaiman menjadi Kerajaan Israel Utara dengan ibu kotanya Samaria dan Kerajaan Israel Selatan dengan ibu kotanya Yerusalem. Sekte Samaria menamakan diri mereka Syumirim dengan erti “Pengawal Syari’at” dan menamakan diri mereka Bani Israel, kerana menganggap diri mereka sebagai bangsa Israel sejati yang berasal dari keturunan suku Efraim dan Manasye. Oleh itu, mereka diberi nama Bani Yusuf.[28]

Namun sumber-sumber klasik Yahudi menganggap mereka sebagai bangsa campuran yang tidak kaitan dengan darah Yahudi murni. Ini kerana percampuran mereka–setelah peristiwa penawanan oleh bangsa Asyur yang mengakhiri sejarah kerajaan Israel Selatan– dengan bangsa-bangsa yang menjadi sasaran politik eksklusif bangsa Asyur melalui kependudukan di daerah-daerah jajahan mereka di Timur Dekat Kuno. Maka berbaurlah orang Samaria yang melarikan diri dari pengasingan dengan kaum-kaum yang telah diasingkan secara paksa ke selatan Palestin (The International Jewish Encyclopedia, 1973:269).

Talmud menyebut sekte Samaria dengan nama Chutim atau al- Kutiyyin yang dikaitkan kepada Kut, salah satu tempat tinggal asli mereka. Sekte Samaria mengaitkan diri mereka kepada Harun dan menamakan Imam Besar dengan imam Lewi yang dikaitkan kepada orang Lewi. Di sebelah selatan, kaum Yahudi merosak citra sekte Samaria penduduk Utara dan menuduh mereka menyimpang dari agama yang benar dan terjerumus untuk menyembah tuhan bangsa lain. Sebagian kitab nabi-nabi mengkritik kritik keras mereka kerana mereka turut terlibat merosakkan agama dan social (The International Jewish Encyclopedia, 1973:269).

Wujud permusuhan lama di antara penduduk utara dengan selatan yang diakibatkan oleh masalah politik yang menyebabkan perpecahan dan selanjutnya melibatkan agama yang pada akhirnya muncul pusat agama baru di utara, iaitu Samaria yang menyaingi pusat agama lama, iaitu Yerusalem di Selatan. Sekte Samaria menganggap bukit Gerizim sebagai bukit suci dan mereka menghadap kepadanya sebagai kiblat agama dari menghadap ke Yerusalem. Bukit ini sekarang menghadap ke kota Nablus yang dahulunya bernama Samaria dan ia pula pernah diberi nama Shikem dalam sejarah kuno yang mendahului kemunculan bangsa Ibrani di Palestin. Sekte Samaria mendakwa Ya’qub (a.s) pernah membangun sebuah rumah Tuhan di kawasan ini dan memberinya nama Betel. Bait ini dahulunya adalah kiblat Musa (a.s), dan orang yang merubah kiblat tersebut adalah Dawud dan Sulaiman, kerana alasan-alasan politik yang sejalan dengan kerajaan yang ditubuhkan (Zhazha, 1975:247-248).[29]

Sekte Samaria berbeda dengan kaum Yahudi yang lain. Mereka hanya beriman kepada Taurat yang mereka namakan Taurat Musa. Mereka menolak kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain kecuali kitab Yesaya dan mereka juga menolak Talmud. Taurat merupakan teks yang mendahului teks Mesorah dengan beberapa perbezaan di antaranya adalh teks dalam “Perintah yang Sepuluh” bahwa tempat yang dipilih Tuhan adalah bukit Gerizim.[30] Sekte Samaria meyakini Taurat mereka adalah asli, sedangkan Taurat yang diimani oleh kaum Yahudi yang lain telah mengalami perubahan di tangan Ezra, penulisnya. Mereka merayakan hari Paskah di atas bukit Gerizim di mana mereka menyembelih domba sebagai qurban, kemudian memanggang dan memakannya secara terburu-buru (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:1647).Mereka melakukan ziarah ke bukit Gerizim pada hari raya roti tidak beragi (Matzot) dan membaca beberapa bagian Taurat. Di kalangan sekte Samaria tidak ada satu pun kelompok ulama selain pendeta, kerana pendeta dan orang-orang Lewi tidak mengizinkan itu terjadi. Para pengikut sekte Samaria tidak memiliki kegiatan hokum yang sebanding dengan kegiatan Yahudi Ortodoks (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:1647).

Begitulah kesimpulan keyakinan para pengikut sekte Samaria yang berkaitan dengan keimanan kepada Taurat dan kitab Yesaya, menolak isi Perjanjian Lama yang lain dan Talmud, beriman kepada kenabian Musa dan menolak nabi-nabi lain sesudahnya serta menganggap Musa sebagai penutup kenabian, beriman kepada kesucian bukit Gerizim dan menganggapnya sebagai kiblat Bani Israel (Zhazha, 1975:248). Di samping itu mereka juga meyakini hari berbangkit, hari kiamat dan kedatangan al-Masih juru selamat (Zhazha, 1975:252).[31]

Para pengikut sekte Samaria tinggal di Nablus di mana populasi mereka mencecah 250 orang dan di Holon dengan populasi sekitar 150 orang. Mereka memiliki rumah ibadah di bukit Gerizim yang sentiasa menjadi tempat suci mereka, dan setiap tahun mereka mempersembahkan qurban Paskah kepadanya.

Kedua: Hasideans

Hasideans adalah sekte agama Yahudi yang tidak diketahui sedikit pun tentang asal-usulnya. Sekte ini menjalankan aktivitinya pada abad II sebelum Masehi sepanjang waktu penindasan Antiachus Epiphanes di mana para pengikutnya memilih mati dari mengotori hari Sabat dan mereka merupakan dalang revolusi Hasmonean. Meskipun ada persamaan nama, namun mereka merupakan sekte tua yang berbeda dengan sekte-sekte Hasideans Yahudi moden. Kedua-dua sekte ini dibezakan melalui penggunaan kata Yunani “Hasideans” dari kata Ibrani “Hasidim” dengan makna “orang yang bertaqwa”.

Para pengikut sekte Hasideans dikenali istiqamah menjalankan perintah dan sentiasa berdoa serta berpegang teguh dengan ritual Sabat. Adapun hubungan mereka dengan sekte-sekte Yahudi yang lain, mereka dalam bidang politik turut serta memberontak kaum Hasmonean melawan Yunani. Mereka bersekutu dengan orang Mukabiyyin dan turut mendukung mereka hingga akhirnya terbukti orang Mukabiyyin memiliki tujuan politik yang sekular, lalu mereka berhenti memberikan sokongan. Sebagian ilmuwan menganggap mereka sebagai kelompok yang menyiapkan kelompok Farisi (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:849).

Di antara pemikiran mereka adalah melawan usaha Antiachus memaksakan falsafah Helenisme terhadap kaum Yahudi, menjalim kebebasan beragama dan tidak mendukung nasionalisme Yahudi. Meksipun memiliki pengaruh terhadap orang Hasmonean, namun mereka tidak membantu orang Hasmonean dalam peperangan mereka demi kebebasan politik (Preiffer, 1969:39).

Sekte ini berakhir setelah terjadi konflik dengan orang Mukabiyyin. Akan tetapi pemikiran mereka tetap hidup kerana diambil oleh sekte-sekte Yahudi yang lain, seperti sekte Farisi. Mereka juga dianggap sebagai pendahulu sekte Eseni yang dikenali istiqamah menjalankan syariat. Pfeiffer berpandangan kata Farisi mengisyaratkan makna “yang memisahkan diri” atau “yang mengasingkan diri” atau “tidak tradisionalis”. Sebagian ilmuwan melihat kata “Hasid” dan “Eseni” diambil dari satu kata yang bermakna “ketakwaan” (Preiffer, 1969:39). Ini bererti ada kedekatan inti ajaran antara kedua sekte itu.

 

Ketiga: Farisi

Nama sekte ini secara harfiah bererti “orang yang memisahkan diri” atau “orang yang mengasingkan diri” dari orang lain kerana faktor-faktor yang berkaitan dengan kesucian ritual. Sekte Farisi merupakan sekte agama-politik yang wujud selama waktu Haekal Kedua. Asal-usul mereka tidak diketahui, namun sebagian ilmuwan menganggap mereka sebagai perpanjangan tangan sekte Hasideans yang dikenali kental melawan pengaruh budaya Helenisme Yunani atas kaum Yahudi. Sekte Farisi mengambil ajaran agama Yahudi warisan atau tradisional.[32]

Mereka membentuk satu masyarakat kecil yang tertutup dan menjalani kehidupan berkelompok, khususnya dalam makan dan menjaga aturan-aturan kesucian. Mereka berusaha memaksakan pengaruh mereka terhadap Haikal dan menyaingi orang Saduki dalam hal pengaruh ini. Sekte Farisi memasukkan tradisi-tradisi masyarakat yang tidak ada dasarnya dalam Taurat ke dalam akidah, dan inilah yang ditolak oleh orang Saduki (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:849).

Sekte Farisi dikenali bertentangan dengan kaum Saduki, dan keduanya adalah sekte-sekte Yahudi yang paling penting pada masa itu. Pertentangan di antara keduanya diakibatkan oleh pertentangan sosial. Orang Farisi mengakui konsep yang dinamik dalam hukum tasyri’ sementara kaum Saduki menolak untuk menyesuaikan diri dengan persekitaran yang dinamik itu. Ketika kaum Farisi bersifat bertolak angsur dalam tafsiran-tafsiran mereka, kaum Saduki pula justeru tetap bersifat harfiah dalam mentafsirkan teks bertulis (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:1497).

Dari sisi lain, sekte Farisi mengakui undangundang lisan yang disampaikan dari mulut ke mulut dan menyamakan dengan peraturan-peraturan bertulis, iaitu Perjanjian Lama. Mereka membentuk kehidupan manusia ke dalam kerangka hukum yang meliputi segala sisi kehidupan yang mereka beri asas teologi agama. Mereka mendiskusikan masalah takdir, baik, buruk, kekekalan jiwa dan hasyar. Mereka mengakui konsep qada’ dan qadar di samping mengakui tanggung jawab insan terhadap amal perbuatannya. Kebalikan dari sekte Saduki, orang Farisi mempercayai hidup sesudah mati, orang yang sudah mati bakal dibangkitkan semula, kedatangan al-Masih dan hari perhitungan (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:1498).

Para ilmuwan menganggap sekte Farisi bertanggung jawab atas sokongan akhlak dan unsur fleksibiliti yang membuat agama Yahudi tetap wujud dan mampu melawan krisis-krisis sejarah dan keagamaan. Mereka memandang sekte ini sebagai unsur kemajuan dalam agama Yahudi (Pfeiffer, 1969:40).

Ini kerana ia memiliki kecenderungan yang tetap mentafsirkan semula syari’at dan menghasilkan warisan lisan yang diberi nama tradisi lisan. Sekte Farisi dianggap bertanggung jawab terhadap usaha mengembangkan dan menyokong Sinagog (tempat ibadah) sebagai pusat ibadah dan pengajian di samping Haikal. Mereka juga mengembangkan ritual Sinagog yang sebagian besarnya masih diikuti hingga ke hari ini (Pfeiffer, 1969:41 dan The International Jewish Encyclopedia 1973:240).

Konflik antara sekte Farisi dengan sekte Saduki merupakan waktu perpindahan kepimpinan agama Yahudi dari orang Saduki yang dikenali memiliki kecenderungan keagamaan yang bersifat keimaman konservatif dan cenderung aristokrat-sosialis kepada orang Farisi yang cenderung tidak ada imami, tetapi merakyat, sebagai guru dan ahli hikmah, meskipun sekte sering mengasingkan diri untuk menjaga kesucian syi’ar kegamaan. Sekte Farisi cuba menghambat kekuasaan orang Saduki ke atas Haikal. Oleh itu, mereka mengembangkan Sinagog sebagai pengganti Haikal untuk membatasi pengaruh orang Saduki yang sudah memiliki kekuatan di Haikal, dan akidah mereka telah berubah menjadi sekadar symbol belaka. Sementara orang Farisi memperluas pentafsiran dan menampung tuntutan hidup dengan mengeluarkan hokum-hukum baru yang berisi pengakuan terhadap perkembangan dan perubahan (Herford, 1962:4).[33]

Orang Farisi pula memperluaskan lagi ruang lingkup keimaman dari kelompok imam yang dipegang oleh orang Saduki kepada keimaman rakyat dengan nilai-nilai sejagat dan sistem demokrasi. Mereka menganggap Sinagog sebagai lembaga keagamaan yang terbuka bagi semua orang untuk beribadah, berkhidmat dan belajar sekali gus menggantikan Haikal yang dikuasai oleh orang Saduki. Sebagian peneliti menganggap orang Farisi sebagai masyarakat keagamaan atau masyarakat beriman. Inilah yang membuat agama Yahudi tetap bertahan setelah keruntuhan negara (Herford, 1962:4).

 

Keempat: Sekte Saduki

Orang Saduki merupakan kelompok papan atas yang terdiri dari para penguasa Yerusalem, dan kelompok yang setia kepada mereka tetap terbatas hanya kepada papan atas yang terdiri dari para imam dan skup tentera serta keluarga aristokrat Yahudi. Sebagian ilmuwan berpendapat asal-usul orang Saduki kembali kepada imam besar, Zadok, imam besar Sulaiman, dan anak cucunya yang mewarisi kedudukan ini sampai tahun 162 SM. Orang Saduki mempunyai pengaruh besar dalam bidang politik dan ekonomi. Menurut mereka, agama berkait rapat dengan Haikal dan ritualnya tanpa ada kaedah teologi agama yang kuat (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:1639).

Meskipun mereka mengakui autoriti Perjanjian Lama, khususnya hukum-hakam, namun kecenderungan teologi mereka bersifat negatif. Mereka menolak keyakinan tentang arwah, malaikat dan hari berbangkit. Mereka juga menolak tradisi lisan atau yang dinamakan hukum lisan yang tidak bertulis (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:41).

Mereka memberi tumpuan terhadap tafsiran harfiah bagi Perjanjian Lama dan menolak setiap pembaharuan serta hukum-hakam baru yang dikembangkan oleh orang Farisi serta menganggapnya termasuk bid’ah. Orang Saduki memiliki ikatan dengan raja-raja Hasmonean. Mereka menerima pemikiran Helenisme kendati mereka berada dalam aliran yang keras. Mereka berjaya meraih pengaruh politik dan ekonomi yang besar kendati populasi mereka sedikit. Mereka pernah memiliki autoriti politik dalam waktu singkat. Mereka memberi perhatian besar terhadap hubungan nasab, darah, kedudukan sosial dan ekonomi sedangkan orang Farisi menaruh perhatian terhadap ketakwaan dan pendidikan (The International Jewish Encyclopedia, 1973:105).

Orang Saduki berbeda dengan rang Farisi dalam beberapa perkara yang antara lain dalam pandangan keagamaan dan gaya hidup di mana orang Saduki menyerukan hak individu dan kelompok dalam mewujudkan kebahagiaan serta kemakmuran dalam kehidupan dunia tanpa menunggu ganjaran pahala di alam lain. Ini berlandaskan kepada sikap mereka yang menolak adanya alam sesudah kematian, hari berbangkit dan keabadian ruh. Keberadaan orang Saduki berakhir bersamaan dengan keruntuhan Haikal pada tahun 70 M di tangan bangsa Rom. Dengan lenyapnya Haikal, maka lenyap pulalah kekuasaan agama, politik, sosial dan ekonomi orang Saduki, serta lenyap pulalah keberadaan mereka. Pada waktu yang bersamaan, orang Farisi tetap wujud dan akidah mereka berkembang sampai menjadi popular dengan istilah Yahudi Tradisionalis atau Rabisme.[34]

 

Kelima: Sekte Eseni

Eseni adalah satu sekte agama Yahudi yang sezaman dengan sekte Farisi dan Saduki pada dua abad sebelum masehi sampai hancurnya Haikal pada tahun 70 M di tangan bangsa Rom. Nama sekte ini agak aneh. Sebagian ilmuwan menegaskan bahwa maknanya adalah orang yang bertaqwa. Mereka menggalinya dari bahasa Suryani dan Hasya dengan makna “orang yang bertaqwa” (Preiffer, 1948:43).

Nama tersebut seolah mencakupi beberapa masyarakat Yahudi yang mengasingkan diri yang kemudian disebutkan oleh sejarawan Yosefus (Yusuf bin Ma􀄴a) terdiri dari dua kelompok masyarakat; salah satu darinya tidak membolehkan berkahwin dan mewajibkan melajang, sedangkan yang satunya lagi membolehkan berkahwin (The International Jewish Encyclopedia, 1973:105).

Yosefus dan ahli falsafah Philon tetap menjadi sumber informasi utama tentang orang Eseni sampai akhirnya ditemukan naskah-naskah Laut Mati di mana sebagian besar sejarawan berpendapat bahwa orang-orang Eseni yang dibicarakan oleh naskah-naskah tersebut dan mereka

memiliki ikatan dengan agama Masehi sejak awal lagi. Antara orang Eseni adalah keyakinan tentang keabadian ruh serta pahala dan siksa, namun mereka tidak mempercayai kebangkitan jasad. Mereka menentang perhambaan dan kepemilikan peribadi. Mereka hidup secara berkumpulan. Mereka mempunyai gaya hidup sederhana yang tegak berdasarkan zuhud, mengasingkan diri dan hak kepemilikan yang bersifat kolektif. Mereka lebih ekstrim dari orang Farisi dalam masalah ritual dan ritual Sabat. Mereka menekankan perlunya mandi sebelum melaksanakan ritual dan bangun pagi untuk berdoa. Mereka mengutamakan berdiam diri dalam waktu yang lama (The Standart Jewish Encyclopedia, 1966:640).[35]

Di kalangan mereka terdapat satu kelompok yang menolak pernikahan dan mengutamakan untuk melajang. Bagi orang yang ingin bergabung dengan kelompok ini hendaklah terlebih dahulu melakukan latihan yang ketat dan tidak dibenarkan menyampaikan ajaran-ajaran kelompok kepada sesiapa pun di luar kelompok mereka. Mereka menolak qurban-qurban haiwan dan hanya mendekatkan diri kepada Haikal dengan mempersembahkan roti dan

minyak samin (Pfeiffer, 1969:44).

Pekerjaan utama mereka adalah bercucuk tanam. Mereka membahagikan pekerjaan di antara sesama mereka. Mereka menghabis kan sebagian besar waktu mereka untuk beribadah dan mempelajari agama. Dalam beribadah mereka tidak mahu bergabung di Haikal meskipun orang Saduki menguasainya. Orang Eseni membentuk satu kelompok persaudara an yang berpisah dari masyarakat kebanyakan. Sedangkan orang Farisi turut serta dalam kehidupan kelompok Yahudi, termasuk kegiatan yang berkaitan dengan khidmat keagamaan di Haikal. Orang Eseni menganggap diri mereka sebagai bangsa Israel sejati (Pfeiffer, 1969:44).

Meskipun sekte Eseni menjalani hidup zuhud dan mengasingkan diri, namun mereka ikut terlibat dalam kehidupan politik pada masanya. Mereka turut serta dalam peperangan melawan Rom. Jumlah populasi orang Eseni mencecah 4000 orang menurut pernyataan Philon, dan mereka bertempat tinggal di beberapa kota dan perkampungan, di antaranya Ain Jaddi yang dianggap oleh para peneliti sebagai kawasan Qumran tempat di mana ditemukan naskah-naskah Laut Mati. Keberadaan kelompok ini berakhir setelah kehancuran Haikal pada tahun 70 M. Orang Eseni memiliki kesamaan dengan orang Farisi dalam beberapa perkara yang antara lain adalah menentang orang Saduki menjadi imam-imam Yerusalem. Orang Eseni amat membenci orang yang tidak ikut serta beribadah di Haikal, sementara orang Farisi masih dapat kenyataan itu. Kedua-dua sekte tersebut sama-sama menekankan betapa penting hidup mengasingkan untuk menjaga kesucian ritual dan memastikan ibadah dan ketaqwaan peribadi dapat dilakukan lebih khusyuk (Judaica, 10/763).

Kedua-dua sekte tersebut sama-sama meyakini keabadian jiwa. Namun orang Eseni menolak keyakinan kebangkitan jasad yang dipercayai oleh orang Farisi. Latar belakang sosial orang Eseni hampir sama dengan orang Farisi sedangkan sekte Saduki bertumpu kepada aristokrat, tentera dan imam-imam papan atas.

 

Keenam: Sekte Karaite

Sekte Karaite dianggap sekte Yahudi paling penting yang menentang sekte Yahudi Rabi. Mereka diberi beberapa gelaran yang antara lain adalah “Abnaul Miqra” dan “Ahlul Miqra” sebagai isyarat kepada keteguhan orang Karaite memegang Perjanjian Lama sebagai satu-satunya sumber

hukum dan tidak mengakui adanya hukum lisan. Meskipun sekte Karaite muncul pada awal abad VIII Masehi, namun terdapat usaha-usaha untuk mengembalikan asal-usul kelompok ini kepada periode di antara dua masa di mana sebagian ilmuwan meyakini bahwa kelompok yang dikenal pasti melalui naskah-naskah Laut Mati memiliki pengaruh terhadap kemunculan kelompok-kelompok Yahudi belakangan yang pada akhirnya menjadi sekte Karaite.[36]

Para pakar naskah-naskah Laut Mati menyimpulkan bahwa terdapat persamaan dalam keyakinan antara kedua kelompok tersebut iaitu meyakini Perjanjian Lama sebagai sumber hukum, menolak hukum lisan, menaruh perhatian yang besar terhadap pemikiran Mesias, hari kiamat dan tanda-tanda hari kiamat, kedatangan al-Masih untuk mewujudkan kebebasan bagi bangsa Israel, memandang peristiwa-peristiwa masa dahulu bukan hanya sekadar kejadian-kejadian masa lalu, melainkan sebagai tanda-tanda bagi kejadian-kejadian masa yang akan datang, serta meyakini bahwa inilah keimanan Musa yang benar, sedangkan selainnya adalah sesat.

Pada waktu yang bersamaan, terdapat beberapa perbezaan antara kedua kelompok itu yang antara lain adalah dualisme yang diyakini oleh kelompok-kelompok Laut Mati dan membagi alam menjadi dua; alam kebaikan dan keburukan, atau alam cahaya dan alam kegelapan, tunduk kepada takdir yang tidak berubah, dan cenderung menjaga ketat rahsia serta memiliki istilah yang sukar difahami masyarakat awam dan gaya bahasa yang sempit. Demikian pula dengan sistem rahib yang dijalankan oleh para pengikut sekte-sekte Laut Mati. Kesimpulannya, hubungan antara kedua-dua sekte tersebut merupakan dua mata rantai yang tidak bersambung dalam sejarah pertentangan agama Yahudi terhadap agama Yahudi Tradisionalis atau Ortodox Rabi dan tidak ada ikatan secara langsung antara kedua-dua sekte tersebut. Kedua-dua sekte tersebut berdiri secara terpisah, meskipun keduanya memiliki persamaan ciri utama, iaitu menentang agama Yahudi Tradisionalis (Judaica, 􀄴:10/764).

Pemberian nama ”Karaite” merujuk kepada abad IX Masehi dan sekte tersebut turut diberi nama ”Ananiyah” yang dikaitkan kepada pengasasnya, Anan bin Daud (Anan ben David). Antara faktor yang menyebabkan kemunculan kelompok ini pada abad IX Masehi adalah berkembangnya beberapa kecenderungan agama yang bukan tradisionalis di kalangan Yahudi Babilonia dan Parsi, kemunculan Islam dan perubahan keagamaan di Timur Dekat Kuno serta pengaruh secara terhadap agama Yahudi dan Masehi, perubahan-perubahan agama, ekonomi, sosial dan politik yang melanda Timur secara keseluruhan sebagai akibat kemunculan Islam. Sekte ini muncul sebagai tindak balas terhadap kemunculan kelas-kelas sosial Yahudi yang miskin secara sosial dan ekonomi yang merajalela kerana mereka jauh dari pusat-pusat agama Yahudi, khususnya mereka yang bertempat tinggal di Babilonia (Zhazha, 1975:294).

Pemikiran pengikut sekte Karaite mencakupi beberapa sekte Yahudi yang dipengaruhi oleh Islam, seperti al-Isawiyah (Isawites) yang didirikan oleh Abu Isa al-Asfahani dan al-Yodganiyah (Yudghanites) yang didirikan oleh Yodgan, murid Abu Isa al-Asfahani, dan kedua-duanya mengaku nabi pada abad VIII Masehi. Kelompok yang terakhir ini dipengaruhi oleh sekte Mu’tazilah Islam dan para pengikutnya masuk ke dalam sekte Karaite sesudah kemunculannya. Kemudian yang bergabung dengan al-Yodganiyah adalah kelompok al-Musykaniyah. Kelompok ini mengakui kenabian Muhammad (s.a.w) dan mengakui beliau diutus kepada bangsa Arab, bukan kepada Bani Israel (Judaica, :10/764).[37]

Kelompok Karaite juga mencakupi kelompok-kelompok Yahudi yang lain, seperti sebagian orang Saduki yang merupakan saki baki masa sebelum Talmud, Boethusians dan gerakan-gerakan keagamaan lain yang menentang Yahudi Tradisionalis (Judaica, :10/777). Asal-usul sekte Karaite merujuk kepada masa Yerobeam pada awal perpecahan kerajaan Israel menjadi dua kerajaan setelah kewafatan Sulaiman (a.s) pada abad X SM dan kemunculan sekte Saduki, para pengikut Zadok. Namun sumber-sumber Rabi Tradisionalis meyakini kemunculan

sekte Karaite kepada Anan bin Daud dan kedengkiannya terhadap saudaranya, Hananiya, yang dipilih menjadi pimpinan oleh Jalut.

Para pengikut sekte Karaite mencampur adukkan keyakinan mereka antara konsep-konsep agama Yahudi kuno yang keluar dari warisan Talmud dengan beberapa ajaran Islam yang diambil secara langsung dari Islam dan beberapa sekte Islam. Antara bentuk pengaruh Islam adalah serangan sekte Karaite terhadap kecenderungan Tasybihi (Anthropomistik) yang mendominasi dalam agama Yahudi, khususnya tentang Agada dan etika tasawuf Yahudi di mana Tuhan disifatkan dengan sifat-sifat manusia tulen atau menyerupakan Tuhan dengan manusia (Musyabbahah).[38]

Keyakinan sekte Karaite terdiri dari 10 rukun utama:

  1. Allah adalah pencipta alam semesta dan alam ruh dari ketiadaan.
  2. Allah adalah pencipta yang bukan makhluk.
  3. Allah adalah esa tanpa bentuk, tidak ada suatu apa pun menyerupai-Nya, tungal, tidak memiliki jasad dan mutlak dalam keesaan-Nya.
  4. Allah telah mengutus Musa (a.s) (keyakinan terhadap kenabian dan para nabi)
  5. Allah telah menurunkan Taurat melalui Musa (a.s) yang mencakupi hakikat yang sempurna, dan tidak ada syari’at lain apa pun yang dapat menyempurnakan atau menghapusnya, khususnya syari’at lisan yang dikenal oleh para Rabi.
  6. Setiap orang yang beriman wajib mengetahui Taurat dalam bahasa aslinya dan mengetahui maknanya yang sahih.
  7. Allah menurunkan wahyu sendiri-Nya kepada para nabi-nabi lain, sekalipun kedudukan kenabian mereka berada di bawah Musa (a.s).[39]
  8. Allah akan membangkitkan orang yang telah mati pada hari perhitungan (hisab).
  9. Allah membalas setiap manusia menurut cara hidupnya dan amal perbuatannya. (Ini mencakupi individualisme, kebebasan kehendak, keabadian ruh, serta keadilan pahala dan siksa di akhirat)
  10. Allah tidak merendahkan orang yang telah diasingkan, melainkan Dia menyucikan mereka melalui penderitaan dan kesengsaraan mereka di tempat pengasingan, sementara mereka menunggu pembebasan ilahi melalui al-Masih juru selamat dari Bait Dawud. (Namun sebagian anggota sektesekte Karaite menolak keyakinan tentang al-Masih juru selamat)

 

  1. 1.      Corak Tradisionalis

Pengikut gerakan jenis ini tidak berusaha menciptakan perubahan apa pun dalam konsep agama yang diwarisi. Di sini kami menyebutnya sebagai corak gerakan yang menjadi poros gerakan-gerakan lain dan menjadikannya sebagai pusat pemikiran untuk menciptakan perubahan yang bersesuaian dengan keyakinan yang diserukannya. Dalam waktu yang bersamaan, corak gerakan ini merupakan tiang yang bercabang daripadanya gerakan-gerakan keagamaan lain yang terpaksa mengambil sikap daripada tiang ini, lalu menerimanya atau menyimpang daripadanya berdasarkan  pandangannya yang baru dan pandangannya kepada keyakinan-keyakinan yang dikandungi oleh tiang ini. Corak Tradisionalis yang diwarisi ini disebut keyakinan Ortodox yang mengungkap di dalam setiap agama tentang bentuk asli tradisionalis agama dan menentang setiap usaha- usaha pembaharuan atau reformasi. Kalaupun pembaharuan atau reformasi harus diterima, namun itu pun dengan tingat kewaspadaan yang tinggi. Penggunaan istilah Ortodox untuk membezakan antara pemikiran agama corak ini dengan corak-corak lain yang muncul daripadanya. Ketika para penganut keyakinan Ortodox berusaha menyesuaikan keyakinan mereka dengan tuntutan-tuntutan kekinian, namanya disebut Neo-Ortodox yang berusaha merubah sendiri apa yang sejalan dengan perubahan-perubahan mendadak dan sejalan dengan masa kekinian, akan tetapi dalam batas-batas yang sangat sempit.[40]

  1. 2.      Corak Pembaharuan

Corak gerakan ini adalah corak gerakan yang berusaha menjelaskan agama atau keyakinan dasar dengan penjelasan kekinian dan mentafsirkannya dengan tafsiran yang selaras dengan masa dan tempat serta berusaha mencari jalan keluar bagi masalah-masalah yang timbul akibat interaksi antara agama dengan persekitaran dalam batasan-batasan masa dan tempat yang tepat.

  1. 3.      Corak Reformis

Corak gerakan ini adalah corak gerakan yang berusaha memasukkan banyak perubahan ke dalam keyakinan Ortodox dan memaksanya untuk meninggalkan pemikiranpemikiran tradisionalis yang diwarisi jika telah terbukti tidak ada manfaatnya. Kadang kala tujuan reformasi tersebut untuk membersihkan keyakinan Ortodox daripada unsur-unsur asing yang telah masuk ke dalamnya dan kembali kepada keadaannya yang semula. Kadang kala tujuan reformasi tersebut adalah pembaharuan dan menerima masa kekinian dengan melepaskan diri daripada keyakinankeyakinan yang menghalangi terwujudnya tujuan ini.

 

  1. F.        Doktrin-doktrin yang dikembangkan

Pada zaman Musa (a.s) untuk pertama kalinya ditetapkan tentang ciri khusus bagi sifat Tuhan. Antara ciri yang paling penting adalah tuhan tidak mungkin dapat dibayangkan atau dijelmakan dalam bentuk dan rupa apa pun seperti mana yang dilakukan oleh penganut paganism terhadap tuhan-tuhan mereka. Perintah kedua dari sepuluh perintah menyebutkan: “Jangan kau buat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi” [Kitab Keluaran 20:4].

Perintah ini memberikan bentuk metafisikbagi Tuhan dengan makna bahwa Dia adalah tuhan yang maha suci dari alam yang diciptakan-Nya dan tidak mungkin dapat membayangkan-Nya dalam bentuk apa pun dari bentuk-bentuk alam yang diciptakan itu. Dia adalah tuhan yang tidak berbentuk yang tidak bergantung kepada alam. Dia bersifat metafizik, kerana Dia adalah penciptanya. Dalam perintah pertama terdapat teks yang menegaskan satu sifat asas Tuhan, iaitu sifat tauhid (esa): “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku” [Kitab Keluaran 20:3]. Selain itu, mukaddimah perintah juga memberikan satu sifat lain bagi Tuhan, meskipun tidak dalam bentuk perintah, iaitu sifat menguasai sejarah dan peristiwa-peristiwanya. Tuhan adalah tuhan sejarah yang menggerakkan peristiwanya dan mengendalikan perjalanannya. Mukaddimah perintah yang sepuluh dalam kitab Keluaran (Eksodus) mengingatkan orang Israel tentang perbuatan Tuhan yang telah berlangsung dalam sejarah berupa membebaskan orang Israel dari perhambaan bangsa Mesir: “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perhambaan” [Kitab Keluaran 20:2].

Ada pula satu sifat penting dan asas, iaitu sifat akhlak Tuhan, iaitu satu sifat baru yang tidak dikenal pada periode sebelumnya atau setidaknya belum ditulis secara teks. Sifat akhlak ini dapat dijumpai dalam sekumpulan perintah-perintah moral yang mengiringi sekumpulan perintah-perintah doktrin. Tujuan menyusun perintah yang sepuluh mengikut bentuk ini adalah membentuk ikatan antara doktrin agama dengan akhlak dalam bentuk yang membuat doktrin itu menjadi sumber akhlak dan mampu memberikan agama sifat akhlak yang praktikal. Barangkali ungkapan: “Sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, iaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku”, [Kitab Keluaran 20:5] mengisyaratkan makna yang samar dan tidak secara langsung menunjukkan pahala dan siksa sehingga membuat perintah-perintah moral selanjutnya menjadi sesuatu yang logik (Anderson, 1962:34-35). Tuhan adalah Tuhan pemilik perintah-perintah doktrin dan moral yang wajib dita’ati yang membuahkan pahala, sedangkan tidak menta’atinya pasti mengakibatkan mendapat siksa. Di sini muncullah konsep keta’atan sebagai asas bagi hubungan antara Tuhan pemilik perintah dengan hamba yang diciptakan yang menjalankan perintah-perintah ini. Perintah-perintah akhlak tersebut disusun sesudah perintah-perintah doktrin seperti mana berikut: “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzina. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya lelaki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keldainya,

atau apa pun yang dipunyai sesamamu” [Kitab Keluaran 20 : 12-17].

Selain perintah doktrin dan moral ada pula jenis lain perintah khusus tentang ibadah yang disebut melewati perintah ritual. Perintah ini mencakupi perintah yang mengharamkan untuk menuturkan nama Tuhan secara semberono: “Jangan menyebut nama Tuhan, Allahmu, dengan sembarangan, sebab Tuhan akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” [Kitab Keluaran 20 : 7].

Perintah kedua ini dikhususkan untuk memuliakan hari Sabat (Sabtu) dan ritual-ritual yang berkaitan dengan pemujaan ini: “Ingatlah, dan kuduskanlah hari Sabat. Enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu lelaki, atau anakmu perempuan, atau hambamu lelaki, atau hambamu perempuan, atau haiwanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya Tuhan menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Dia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya Tuhan memberkati hari Sabat dan menguduskannya” [Kitab Keluaran 20 : 8-11].[41]

Dalam teks perintah-perintah yang sepuluh, ada pula tiga jenis perintah yang membentuk struktur keagamaan agama Israel pada zaman Musa (a.s); pertama, perintah doktrin tentang konsep agama yang membahas sifat tuhan; kedua, perintah tata cara beribadah kepada tuhan sebagai amalan yang wajib dilaksanakan; ketiga, perintah akhlak yang mengisyaratkan tuhan sebagai tuhan akhlak dan agama sebagai peraturan yang wajib dilaksanakan melalui perilaku yang bersifat akhlak dan akhlak ini memiliki ikatan yang tidak dipisahkan dengan agama. Dengan kata lain, akidah dan akhlak tidak boleh dipisahkan dan akidah merupakan sumber bagi akhlak. Di antara perintah-perintah tersebut dapat diketahui konsep pahala dan siksa seperti mana dijumpai dalam ungkapan:

Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya … tetapi Aku menunjukkan kasih setia … sebab Tuhan akan memandang bersalah

orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan…supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan…[42]

Antara doktrin-doktrin pada fasa Musa dalam perkembangan agama Yahudi adalah doktrin perjanjian. Doktrin ini telah pun wujud pada periode ‘para leluhur’, namun ia tidak berkembang menjadi salah satu doktrin agama Yahudi melainkan sesudah periode Musa bersamaan dengan proses-proses sejarah yang mengembalikan konsep perjanjian kepada masa-masa sebelumnya, malah sebagian proses sejarah doktrin ini telah pun diyakini wujud sejak Adam (a.s), yakni sejak awal penciptaan. Tuhan pada periode ini disifatkan sebagai Tuhan perjanjian dan para pengikut yang menyembah-Nya disifatkan sebagai pengikut perjanjian (Bright, 1972:122-144).

Oleh yang demikian, kelompok Ibrani yang keluar meninggalkan Mesir setelah melihat Tuhan membela mereka dalam pelbagai peristiwa penting itu meyakini bahwa mereka dipilih oleh sisi tuhan untuk menjadi pengikut-Nya [Kitab Keluaran 15 : 1–18, Bilangan 23 : 9, Ulangan 33 : 28, Hakim-hakim 5 : 11] (Anderson, 1962:35).

Pilihan tuhan ini merupakan anugerah tuhan dan bukan sifat-sifat khusus dalam kelompok ini. Konsep perjanjian merupakan konsep yang sudah ada sejak dahulu kala di mana ia terjadi lantaran adanya ikatan kuat yang mengikat kabilah dengan tuhan mereka. Namun kadang kala perjanjian itu menjadi putus antara tuhan dengan kabilah yang menyembah-Nya, seperti janji tuhan untuk melindungi kabilah-Nya, memberikan pertolongan dan memimpin mereka dalam peperangan melawan musuh mereka. Sistem keagamaan tribalisme pula memaksakan adanya sistem perjanjian ini. Barangkali inilah yang terjadi sesudah zaman Musa (a.s) di mana kabilah-kabilah Israel mula bersatu padu setelah mereka bermukim di Kan’an.

 

BAB III

Praktek Keagamaan dalam Agama Yahudi

 

  1. A.    Ritual Keagamaan dalam Agama Yahudi

Ibadah pada masa itu sangat sederhana. Ciri masyarakat nomaden yang mendominasi kehidupan bangsa Ibrani tidak membenarkan adanya tata cara ibadah yang rumit dan tidak mendirikan rumah atau kuil yang khusus untuk tempat ibadah. Di samping itu, ciri masyarakat nomaden juga membuat hubungan antara Tuhan yang disembah dengan bangsa yang menyembah-Nya bercirikan fanatic yang berdasarkan kesukuan dan mengungkapkan dirinya melalui konsep ancaman dan janji yang selanjutnya menjadi asas agama bagi agama Yahudi. Keperibadian Ibrahim (a.s) dianggap tokoh agama paling utama pada periode ‘para leluhur’. Beliau menerima wahyu Tuhan, menjunjung tinggi perintah Tuhan dalam bentuk keta’atan yang sempurna, menerima janji Tuhan untuk kebaikan masa depan bangsa Israel dan hidupnya dianggap teladan bagi kehidupan yang beriman dan keta’atan. Beliau adalah orang yang pertama kali meninggalkan penyembahan berhala-berhala kerana mengakui adanya satu Tuhan.[43] Ulangan 5:14-15).

Berikut isi kesepuluh perintah tersebut:

20:1Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:

20:2“Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 20:3Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 20:4Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, 20:5tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. 20:6Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. 20:7Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: 20:8enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, 20:9tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. 20:10Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya. 20:11Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. 20:12Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. 20:13Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

 

  1. B.     Ritual Keagamaan

Sekitar 3200 tahun yang lalu Musa memimmpin mereka keluar dari daerah perbudakan, merupakan satu rombongan besar ada yang berkuda, ada yang naik kereta, berjalan kaki dan sebagainya. Semua mengikuti Musa menuju kearah timur dari tanah Mesir.di Mesir, banyak terdapat Tuhan-tuhan dan berhala-berhala. Orang yang ingin melihat Tuhannya dapat memnuhi keinginannya itu dengan pergi ke kuil terdekat. Orang-orang Israel yang sudah bebas itu menyangka, bahwa di kaki gunung Sinai mereka pun akan dapat menjumpai Tuhan mereka berbentuk sapi jantan, atau anak sapi, atau seperti seekor burung hantu. Tapi ternyata mereka tidak melihat sesuatu apapun selain dari gunung. Mereka bertanya “mana Tuhan yang engkau janjikan itu dan siapa yang telah menjanjikan kepadamu untuk membawa kami dengan selamat ke negeri yang di janjikan itu.” Musa menjawab, Yehovah barang siapa yang ingin melihat wajah Tuhan dia harus mati dahulu.”

Kemudian Musa langsung berangkat mendaki gunung Sinai, menuju puncaknya dan berdiam disitu dan berdiam selama empat puluh hari. Setelah itu, Musa turun kembali dengan membawa apa yang terkenal dengan sepuluh perintah Tuhan untuk disampaikan kepada umatnya, Bani Israel.

Ajaran yang belum pernah dikenal sebelumnya secara pasti hanyalah

1)        Tuhan Israel itu adalah Yehova, yang akan membawa mereka keluar dari negeri perbudakan ke suatu negeri yang dijanjikan, maka mereka tidak boleh bertuhan kepada ilah-ilah selain dari Yehovah.

2)        Mensucikan waktu sabath untuk beristirahat dari segala pekerjaan, yang selama ini tidak pernah mereka kenal, apalagi sebagai bangsa budak.

Dari sejarah mereka yang sudah diketahui, bahwa orang Israel semenjak dahulu tidak pernah tetap menyembah Tuhan yang Esa. Sejarah mereka mengatakan bahwa mereka sangat gemar menyembah Tuhan yang berbentuk, bertubuh, dan berbilang. Semua ini merupakan peninggalan kepercayaan kuno mereka, atau diambil dari kepercayaan berbagai suku bangsa lain, karena adanya kontak dalam kehidupan antara mereka dengan bangsa-bangsa lain. Musa juga tidak berdaya melarang dan mencegah mereka menyembah anak lembu, kambing, dan anak dalam kandungan.[44]

Taurat ada yang meninggung penyembahan anak lembu ini. Dan penyembahan terhadap lembu selalu mengalami pembaharuan di kalangan mereka. Ya’rub’am putra sulaiman pernah membuat dua lembu emas untuk disembah pendukung-pendukungnya supaya tidak susah payah pergi kerumah suci Hakal. Ahab raja Bani Israel  pernah menyembah lembu setelah sataja Bani Israel  pernah menyembah lembu setelah satu abad sesudah kematiansudah kematian Sulaiman. Lebih dari itu, mereka juga pernah menyembah ular. Musa terkenal dengan mukjizatnya. Menurut kitab suci, musa pernah membuat seekor ular dari tembaga, kemudian ular ini disembah bani Israel.

  1. a.      Sembahyang Yahudi

Menurut Amir Ali, hukum Nabi Musa tidak mengandung aturan-aturan mengenai sembahyang, selain mengenai pembayaran sepersepuluh prosen kepada pendeta, dan upacara rumah tangga waktu memperkenalakan anak pertama.

Tiga jam dalam sehari dipergunakan untuk melakukan ibadat sembahyang, yaitu jam sembilan, jam dua belas, dan jam tiga. Tapi kemestian, bahwa segala upacara harus melalui pendeta. Talmud mengatur masalah sembahyang yang tiga waktu diatas dengan lebih terperinci, yaitu orang Yahudi harus melaksanakan sembahyang tiga waktu sehari semalam. Sembahyang pagi, sembahyang siang, dan sembahyang malam.

Sembahyang pagi hari, dapat dilaksanakan mulai terbit fajar samapi sepertiga panjangnya siang hari atau sekitar sampai jam sepuluh. Sembahyang siang, mulai sesaat setelah matahari condong kebarat atau setelah lewat tengah hari, sampai matahari terbenam. Sekitar jam 12.15-18.00 sembahyang malam, mulai sesaat setelah matahari terbenam, atau setelah malam tiba, sampai menjelang terbit fajar. Waktu ini disesuaikan dengan waktu pelaksanaan kurban harian yang dilakukan di kuil-kuil kerena sembahyang sebenarnya sudah menjadi pengganti kurban harian itu.

Sembahyang pagi adalah sembahyang yang paling khusyu’ dilakukan diantara tiga sembahyang itu. Karena sembahyang ini dilakukan pada waktu seseorang belum makan minum sesuatu pekerjaan.

Untuk sembahyang harian diutamakan agar dapaat dilaksanakan secara berjama’ah paling sedikit sepuluh orang laki-laki yang telah berusia lebih dari tiga belas tahun.

  1. b.      Puasa

Ada pendapat, bahwa semua umat hanya menjalankan puasa pada waktu bergabung, duka cita dan kemalangan. Pada umumnya di kalangan kaum Yahudi, puasa itu dilakukan sebagai tanda berkabung dan duka cita. Misalnya Nabi Daud di ceritakn menjalankan puasa tujuh hari pada waktu putranya yang masih kecil sakit.

Syariat Musa menetapkan, bahwa hari penebusan adalah hari puasa, yang intinya agar orang-orang merendahkan diri dan hatinya dengan berpuasa. sementara itu, para pendeta menebusi mereka agar suci dari pada dosa.

Disamping itu, ada beberapa hari puasa yang dipopulerkan setelah hari pembuangan, yaitu sekedar untuk memperingati kejadian yang menyedihkan tatkala kerajaan Yahudi di hancurkan. Diantaranya empat hari Puasa yang di ajarkan secara tertib yaitu :

1)      Memperingati permulaan kota Yerussalam yang di kepung.

2)      Kota Yerusssalam jatuh

3)      Kanisah di hancurkan

4)      Gedaliah dibunuh.[45]

Ibadah Puasa memang salah satu ibadah yang telah diwajibkan oleh Allah kepada ummat sebelum ummat Muhamad SAW. Jadi umat Yahudi pada hakikatya sudah dikenakan kewajiban berpuasa berdasarkan ajaran dan perintah Allah yang telah disampaikan kepada nabi Musa untuk di amalkan oleh Umatnya, tetapi pelaksanaan kewajiban puasa oleh umat Yahudi kelihatnnya tidak lebih daripada peringatan-peringatan terhadap peristiwa-peristiwa yang menimpa mereka baik peristiwa suka, maupun duka. Dengan demikian, puasa bagi mereka bertujuan untuk menyatakan rasa syukur, sedih bukan untuk menyatakan ketaqwaan kepada Allah.

  1. c.       Korban

Korban adalah salah satu upacara umat Yahudi yang amat penting, tapi keterangan mengenai korban yang di berikan oleh imam Yahudi, tidak bercorak teologis. Mereka mengutamakan

“ bagaimana korban dilaksanakan bukan untuk apa-apa “

Dalam korban sebetulnya orang Yahudi banyak terpengaruh kepercayaan suku-suku wilayah disekitrnya, tapi suatu kesulitan juga untuk menentukan mana yang diambil dari luar, dan mana yang asli dari mereka.

 

 

  1. C.    Tempat-tempat suci

Satu bagian dari dinding penahan 2000 tahun kuil herodes, tembok barat adalah simbol iman yang tak tergoyahkan bagi keyakinan dan pengabdian yahudi. Tembok barat (tembok ratapan) adalah bangunan paling suci bagi umat yahudi. Tembok ini dipuja sebagai peninggalan terakhir dari bait allah yang terakhir dibangun.

Di kota tua, situs paling suci dalam yahudi, sisa sejarah tunggal gunung bait (temple mount) dihancurkan oleh romawi pada tahun 70 masehi. Tembok barat yang ada ini adalah bagian dari tembok yang tersisa yang dibangun oleh herodes di sekeliling Bait Allah yang kedua, yang dibangun pada tahun 20 s.m. titus, pada tahun 70 masehi, menyelamatkan bagian tembok ini beserta dengan batu-batu besarnya untuk menunjukkan kepada generasi sesudahnya kebesaran tentara romawi yang memiliki kemampuan menghancurkan bagian lain dari bangunan yang ada sebelumnya. Selama periode pendudukan romawi orang yahudi tidak diperkenan kan untuk memasuki Yerusalem.

Selama periode pendudukan Byzantium (395-638), orang Yahudi diperkenankan untuk memasuki Yerusalem sekali setahun, pada peringatan kehancuran Bait Allah, untuk meratapi pemecahan bangsa mereka dan menangisi kehancuran Bait Kudus/ Suci. Bagian tembok yang ada sekarang ini kemudian dikenal sebagai “Tembok Ratapan”.

Sejak tahun penghancuran Bait Allah, tembok itu telah menjadi fokus dari ziarah yahudi, bahkan setelah fatwa keras roma dari pengasingan tidak boleh memasuki Yerusalem, orang yahudi diizinkan untuk berdoa di sana, di sembilan av-ulang tahun dari kehancuran Bait Allah (holy temple). Hanya selama 19 tahun pendudukan Yordania, 1948-1967, orang yahudi dilarang untuk mendekati tempat suci tersebut.

Setelah kemenangan israel pada perang 6 hari tahun 1967, tembok ratapan berubah menjadi tempat untuk bersukacita nasional, sebagai tempat untuk peribadatan. Sebuah lapangan terbuka yng luas disediakan sebagai wadah bagi beribu-ribu orang yang ingin melakukan

 

  1. D.    Bandingan dengan Islam

Yahudi dan Islam mempunyai beberapa kesamaan seperti percaya Adam adalah manusia pertama dan nenek moyang seluruh manusia, Ibrahim adalah seorang Nabi, dan kitab suci Taurat sebagai wahyu Allah. Meski demikian ada juga perbedaan yang beberapa di antaranya sangat mendasar.

Yahudi adalah agama tribal/kesukuan yang hanya bisa dianut oleh bangsa Yahudi. Agama ini tidak bisa disebarkan ke luar dari suku Yahudi. Oleh karena itu jumlahnya tidak berkembang. Hanya sekitar 14 juta pemeluknya di seluruh dunia. Sementara agama Kristen dan Islam karena disebarkan ke seluruh manusia dipeluk oleh milyaran pengikutnya. Lebih lengkapnya kan dijabarkan sebagai berikut:

  1. 1.      Ketuhanan

Yahudi dan Islam menganggap Tuhan itu Satu. Tuhan Yahudi disebut Yahweh yang merupakan betuk ketiga tunggal ”Dia adalah” (He who is). Ada pun Tuhan dalam Islam disebut Allah yang merupakan bentuk tunggal dan tertentu dari Ilah (Sembahan/Tuhan). Dalam Al Qur’an surat Al Ikhlas dijelaskan tentang keEsaan Tuhan[46]

  1. 2.      Kekuasaan Allah

Di Alkitab, Genesis 32:25-28 disebutkan Yakub berkelahi melawan Allah sejak malam hingga fajar menyingsing. Karena Allah tak dapat mengalahkan Yakub, maka Allah memukul sendi pangkal paha Yakub dan berkata bahwa Yakub telah melawan Allah dan Manusia dan Yakub menang.[47] Dalam Islam disebutkan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengalahkan Allah[48] “Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain. “ [Al An’aam:133]

  1. 3.      Kemandirian Tuhan

Dalam Injil Matius diceritakan bagaimana Yesus mengeluh dengan suara nyaring: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?:Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? [Matius 27:46] Dalam Al Qur’an dijelaskan Allah bukanlah orang yang hina yang perlu penolong: Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. “ [Al Israa’:111]

 

  1. 4.      Sifat Maha Tahu Tuhan

Dalam Alkitab, Injil Markus 11:12-13 diceritakan Tuhan Yesus yang merasa lapar ternyata tidak tahu kalau pohon Ara tidak berbuah karena memang bukan musimnya:11:12 Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. 13 Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. [Markus 11:12-13]

Dalam Islam, disebut bahwa Allah itu Maha Tahu. Bahkan tak ada sehelai daun pun yang jatuh ke bumi tanpa diketahuiNya: “Dan pada sisi Allah-lah kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” [Al An’aam:59] Tidurkah Tuhan? Dalam Injil Matius 8:24 diceritakan Yesus tidur: Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. [Matius 8:24] Menurut Islam, Tuhan Maha Kuasa. Tidak pernah mengantuk dan juga tidak pernah tidur: “Allah, tidak ada Tuhan selain Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya; tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” [Al Baqarah:255]

  1. 5.      Larangan Membuat Patung

Dalam 10 Perintah Tuhan di Exodus 20:4-5 Allah melarang manusia membuat patung apa pun: 20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku [Exodus 20:4-5] Patung Yesus Namun saat ini ummat Kristen membuat banyak patung Yesus dan Bunda Maria yang ditaruh di berbagai tempat terutama di Gereja.

Dalam Islam dilarang membuat patung apalagi menaruhnya di tempat ibadah. Aisyah r.a. berkata, “Ketika Nabi sakit, ada sebagian di antara istri beliau menyebut-nyebut perihal gereja yang pernah mereka lihat di negeri Habasyah yang diberi nama gereja Mariyah. Ummu Salamah dan Ummu Habibah pernah datang ke negeri Habasyah. Kemudian mereka menceritakan keindahannya dan beberapa patung yang ada di gereja itu. Setelah mendengar uraian itu, beliau mengangkat kepalanya, lalu bersabda, “Sesungguhnya mereka itu, jika ada orang yang saleh di antara mereka meninggal dunia, mereka mendirikan tempat ibadah di atas kuburnya. Lalu, mereka membuat berbagai patung di dalam tempat ibadah itu. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah pada hari kiamat.” [HR Bukhari]

  1. 6.      Kitab Suci

Kitab Suci Yahudi meski juga dikutip sebagai Perjanjian Lama oleh kaum Kristen tetap ada beberapa perbedaan mendasar. Selain itu bahasa Kitab Suci Yahudi sebagian besar bahasa Ibrani dengan sedikit Aramaic. Sementara Perjanjian Lama Kristen dalam bahasa Yunani kuno. Ada tambahan 7 buku yang aslinya dalam bahasa Yunani di Perjanjian Lama Kristen.

Ada pun Injil yang resmi ada 4 versi yang berbeda. Masing-masing ditulis oleh Markus, Mathius, Lukas, dan Yohanes. Penulisan dilakukan sekitar tahun 70 hingga 100 Masehi sekitar 40 tahun setelah Yesus wafat (diperkirakan tahun 29 M). Sebagai contoh Lukas menulis Injil yang ditujukan kepada seseorang yang disebut Teofilus: 1:1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, 2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. 3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, 4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar. [Lukas 1:1-4] Lukas kadang hanya mengira-ngira seperti Yesus umurnya kira-kira 30 tahun ketika memulai pekerjaanNya serta memakai kata “Anggapan Orang”:

Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli, [Lukas 3:23] Jika bahasa Yesus adalah bahasa Aramaic, bahasa Perjanjian Baru aslinya adalah bahasa Yunani.

Sebaliknya Al Qur’an hanya ada satu versi yang dihafal oleh banyak orang dan masih murni dalam bahasa Arab sesuai bahasa Nabi Muhammad. Kalau bukan dalam bahasa Arab itu tak lebih dari terjemahan saja. Bukan Al Qur’an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya Al Quran pada malam kemuliaan” [Al Qadr:1] “Kitab[ Al Quran ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” [Al Baqarah:2]

Al Qur’an diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad. Oleh Nabi Muhammad disampaikan ke pengikutnya. Para pengikutnya ada yang menghafal, ada pula yang menulis di berbagai media (daun, tulang, kulit kambing/onta, dsb). Oleh pengikutnya Abu Bakar kemudian Al Qur’an dijadikan satu. Kemudian oleh sahabat Nabi Usman dijadikan satu buku berikut diberi tanda tulisan (panjang pendek, dsb) sehingga pengucapannya sesuai dengan aturan Bahasa Arab yang standar.

  1. 7.      Kewajiban Sunat Bagi Pria

Dalam ajaran Yahudi dan Islam, sunat bagi pria diwajibkan. Ini sejalan dengan Alkitab: GEN 17:10 Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; 11 haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. 12 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu.13 Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal.

Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” [Genesis 17:10-14]

Orang yang tidak bersunat sama dengan najis (Isaiah) karena air kencingnya tetap tersimpan di sela-sela kulit kemaluan: IS 52:1 Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatanmu seperti pakaian, hai Sion! Kenakanlah pakaian kehormatanmu, hai Yerusalem, kota yang kudus! Sebab tidak seorangpun yang tak bersunat atau yang najis akan masuk lagi ke dalammu.

Namun orang-orang Kristen tidak melakukan itu karena menurut Paulus dalam Perjanjian Baru hukum itu dihapuskan (Meski di Genesis 17:10 dinyatakan itu perjanjian yang kekal): ROM 2:25 Sunat memang ada gunanya, jika engkau mentaati hukum Taurat; tetapi jika engkau melanggar hukum Taurat, maka sunatmu tidak ada lagi gunanya. 26 Jadi jika orang yang tak bersunat memperhatikan tuntutan-tuntutan hukum Taurat, tidakkah ia dianggap sama dengan orang yang telah disunat? Jika demikian, maka orang yang tak bersunat, tetapi yang melakukan hukum Taurat, akan menghakimi kamu yang mempunyai hukum tertulis dan sunat, tetapi yang melanggar hukum Taurat. 28 Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah.

Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.

  1. 8.      Larangan Memakan Daging Babi

Dalam ajaran Yahudi dan Islam diharamkan memakan daging babi. Ini sesuai dengan Alkitab Levi dan Deuteronomy 14:8: LEV 11:7 Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. 8 Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu. [Levi 11:7-8]

Dalam Al Qur’an juga dilarang: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain Allah” [Al Baqarah:173] Tapi saat ini babi adalah makanan yang umum di kalangan Kristen.

  1. 9.      Dosa Asal / Warisan

Dalam Exodus 20:5 dijelaskan Allah membalas kesalahan Bapa hingga kepada keturunannya:“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku” [Exodus 20:5]

Dalam Islam, setiap orang hanya memikul dosa masing-masing:“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…” [Al An’aam:164]

  1. 10.  Fitnah atas Nabi Luth (Lot)

Dalam Alkitab, Genesis 19:30-38 diceritakan bahwa Nabi Luth (Lot) berzinah dengan kedua anak kandungnya (Incest) sehingga punya anak dari mereka: GEN 19:30 Pergilah Lot dari Zoar dan ia menetap bersama-sama dengan kedua anaknya perempuan di pegunungan, sebab ia tidak berani tinggal di Zoar, maka diamlah ia dalam suatu gua beserta kedua anaknya.

Kata kakaknya kepada adiknya: “Ayah kita telah tua, dan tidak ada laki-laki di negeri ini yang dapat menghampiri kita, seperti kebiasaan seluruh bumi.32 Marilah kita beri ayah kita minum anggur, lalu kita tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”

Pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu masuklah yang lebih tua untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.

Keesokan harinya berkatalah kakaknya kepada adiknya: “Tadi malam aku telah tidur dengan ayah; baiklah malam ini juga kita beri dia minum anggur; masuklah engkau untuk tidur dengan dia, supaya kita menyambung keturunan dari ayah kita.”

Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun.

Lalu mengandunglah kedua anak Lot itu dari ayah mereka. 37 Yang lebih tua melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Moab; dialah bapa orang Moab yang sekarang. 38 Yang lebih mudapun melahirkan seorang anak laki-laki, dan menamainya Ben-Ami; dialah bapa bani Amon yang sekarang.” [Genesis 19:30-38]

Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Luth adalah benar-benar seorang Rasul yang bersih dari perbuatan dosa seperti meminum anggur atau pun berzinah dengan putrinya sendiri: Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.” [Ash Shaaffaat:133]

Di Al Qur’an dijelaskan Allah melebihkan derajad Nabi Luth di atas ummat manusia. Jadi kalau manusia biasa mayoritas tidak berzinah dengan anak kandungnya, apalagi seorang Nabi seperti Nabi Luth: “dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya)” [Al An’aam:86].

G. Sepuluh Perintah Tuhan Menurut Islam [49]

Lima Nilai Moral Islam dikenal pula sebagai Sepuluh Perintah Tuhan versi Islam. Perintah-perintah ini tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-An’aam 6:150-153 di mana Allah menyebutnya sebagai Jalan yang Lurus (Shirathal Mustaqim ):

Z   Tauhid (Nilai Pembebasan)

  1. Katakanlah: “Bawalah ke mari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwasanya Allah telah mengharamkan yang kamu haramkan ini.” Jika mereka mempersaksikan, maka janganlah kamu ikut (pula) menjadi saksi bersama mereka; dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, sedang mereka mempersekutukan Tuhan mereka. Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia,

Z   Nikah (Nilai Keluarga)

  1. Berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan
  2. Janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan
  3. Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji (homoseks, seks bebas dan incest), baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan

Z   Hayat (Nilai Kemanusiaan)

  1. Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).

Z   Adil (Nilai Keadilan)

  1. Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa.
  2. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya.
  3. Dan apabila kamu bersaksi, maka hendaklah kamu berlaku adil kendati pun dia adalah kerabat (mu), dan

Z   Amanah (Nilai Kejujuran)

  1. penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat,
  2. dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.

Janji Allah termasuk yang disebutkan dalam QS Al-Qur’an surat 36:60 dan 9:111.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Penutup

  1. Kesimpulan


[1] Robert M. Seltzer, ―Jewish People‖, dalam Mircea Eliade, ed., The Encyclopedia of Religion, Vol. 8., New York: Macmillan Library Reference, Simon & Schuster Macmillan, hal. 32

[2] Seperti yang dikisahkan dalam Al-Qur’an: Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman.” Qs. Al-Ankabut: 24, “Kami berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”, Qs. An-Anbiya’ : 69, Qs. As-Shaffat: 97.

[3] A. Maheswara. 2007. Rahasia Kecerdasan Yahudi. Yogyakarta: Pinus Book Publiser. Hlm. 13

[4] Dalam Bahasa Ibrani berarti “Tuhan telah mendengar”

[5] Dalam bahasa Ibrani “hamba Allah” serta identik dengan arti “abdullah” dalam bahasa Arab.

[6] Keturunan Nabi Ya’kub. israel berkembang menjadi nenek moyang bangsa Yahudi (Bani Israil). Israel berrati “kampiun Tuhan”

[7] A. Maheswara, op.cit, hal 20

[8] Sejarah agama yahudi, hal 235

[9] Hal 236

[10] Hal 237

[11] 238

[12] Hlm 239

[13][13] 93

[14] 252

[15] Ahmad Shalaby, Perbandingan Agama Islam, ( Jakarta : Rineka Cipta ) hal 19

[17] Ibid.

[19] Ibid 1986: 20

[20] (http://id.wikipedia.org/wiki/Misnah); Studi keyahudian pada mulanya tidak terulis (lisan). Para rabi menguraikan dan memperdebatkan hukum serta membahas Alkitab Ibrani tanpa bantuan karya-karya tertulis (selain dari kitab-kitab di dalam Kitab Suci sendiri.) Namun, situasi ini berubah secara drastis terutama sebagai akibat penghancuran komunitas Yahudi pada tahun 70 M, dan pergolakan norma-norma sosial dan hukum Yahudi yang ditimbulkannya. Karena para rabi dituntut menghadapi realitas yang baru yang utamanya Yudaisme tanpa Bait Suci dan Yudea tanpa otonomi membanjirlah wacana hukum dan sistem studi oral yang lama tidak dapat lagi dipertahankan. Pada masa inilah wacana rabinik mulai dicatat secara tertulis.Hukum lisan tertua yang dicatat kemungkinan dalam bentuk midrashi. Di sini diskusi halakhik disusun sebagai tafsiran eksegetis terhadap Pentateukh. Tetapi sebuah bentuk alternatifnya, yang disusun menurut topiknya dan bukan menurut ayat-ayat Alkitab, menjadi dominan pada sekitar tahun 200 M., ketika Rabi Judah ha Nasi meredaksi Mishnah (משנה).

[21] Ibid. Hlm. 38-39

[22] Ibid. Hlm. 39

[23] (http://id.wikipedia.org/wiki/agama Yahudi/kita dan teks utama)

[24] Ibid. hlm. 48-49

[25] Ibid. hlm. 49

[26] Ibid. 51-52

[27] Ibid. hlm. 54

[28] Kutub Thuqus al-Din, manuskrip timur, no. 962, Berlin.

[29] 259

[30] 271

[31] Rujuk keterangan mengenai masalah ini dalam: Sayyid Farg Rasyid, al-Samiriyyun wa al-Yahud, Dar al-Marrikh, 1406 H, hal. 121-146. 276

[32] 274

[33] 276

[34] 278

[35] 279

[36] 281

[37] 283

[38] 284

[39] 286

[40] 295

[41] 263

[42] 244

[43] Hal 237

[44] Mukti Ali, Agama Yahudi, (Yogyakarta : Agus Arafa) , hal : 171-172

[45] Ibid, hal 175

@è% uqèd ª!$# î‰ymr& ÇÊÈ ª!$# ߉yJ¢Á9$# ÇËÈ öNs9 ô$Î#tƒ öNs9ur ô‰s9qムÇÌÈ öNs9ur `ä3tƒ ¼ã&©! #·qàÿà2 7‰ymr& ÇÍÈ [46] ö

1.  Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2.  Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4.  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

[47]             Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing. Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu. Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.” Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” [Genesis 32:24-28]

bÎ) ù’t±o„ öNà6ö7Ïdõ‹ãƒ ÏNù’tƒur 9,ù=sƒ¿2 7‰ƒÏ‰y` ÇÊÏÈ $tBur y7Ï9ºsŒ ’n?tã «!$# 9“ƒÍ•yèÎ/ ÇÊÐÈ [48]

16.  Jika dia menghendaki, niscaya dia memusnahkan kamu dan mendatangkan makhluk yang baru (untuk menggantikan kamu). 17.  Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah.

Berikan comment anda untuk apresiasi dan perbaikan tulisan ini..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s